<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304</id><updated>2012-02-16T11:44:57.358-08:00</updated><category term='Picture Document'/><category term='Ilmu'/><category term='KAMMI'/><category term='NEWS'/><title type='text'>because I was there, then I will not be silent</title><subtitle type='html'>“Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik . Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian ujungnya. Jika engkau meluruskannya dengan cara kasar, maka ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, maka ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik!”. (HRBukhari, muslim, ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-8658074660374313009</id><published>2011-08-22T19:25:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T19:27:18.044-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terorisme, Perlawanan Kaum Marjinal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;terbit diharian wawasan edisi 1 Agustus 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat,22 Juli 2011,  Bom  meledak di gedung kementrian Norwegia. Ledakan dahsyat telah meluluhlantakkan salah satu pusat pemerintahan di negara itu. Kabarnya serangan ini merupakan tragedi  terdahsyat paska perang dunia II. Selang beberapa waktu, kembali teror mengguncang negara itu dengan aksi penembakan yang dilakukan oleh seorang ekstrimis sayap kanan Anders Behring Breivik. Lebih dari 90 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati tragedi yang terjadi di Norwegia terdapat fakta menarik yang mengingatkan kita pada bencana serupa di negeri ini. Indonesia tampak sebagai negeri multikultur yang telah kenyang terhadap aksi terorisme. Ledakan bom seolah enggan enyah dari bumi khatulistiwa kendati pemerintah terus gencar mengadakan perlawanan. Ironisnya,  peristiwa tersebut kerap dilakukan oleh sebagian kalangan ekstrimis Islam sehingga menimbulkan sentimen terhadap agama dengan pemeluk mayoritas ini . Padahal seperti yang banyak didengungkan sebagian besar pihak bahwa agama manapun tidak ada yang menghendaki kekerasan, penindasan ataupun kerusakan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan Tanpa Wajah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi titik temu antara tragedi di Norwegia dengan yang terjadi di Indonesia selama ini adalah motif dan landasan pelaku pengeboman. Keduanya lahir dari sebuah ekstrimisme ideologis yang berujung pada pembenaran tindak kekerasan . Genderang perang melawan dominasi tertentu menjadi landasan pokok penggunaan sikap radikal. Sikap ekstrim ini kemudian diwujudkan dalam bentuk teror terhadap masyarakat maupun state. Dalam pandangan teroris, state merupakan representasi penjajah kaum marjinal.  Pelaku teror dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa tindakannya bukanlah sebuah kesalahan melainkan semacam wujud perang suci. Hal ini pula yang dilakukan Breivik maupun Noor Din Top beberapa waktu lalu. Paska penyerangan, keduanya sama-sama memberikan testimoni bahwa tindakan yang mereka lakukan dalam rangka melawan dominasi tertentu atas dasar kebencian dan ketidakadilan. Namun kenyataan dewasa ini, isu terorisme kerap disandingkan dengan fenomena Islam. Ada stigma seolah-olah Islam adalah agama yang melegitimasi penindasan dan kekerasan. Padahal  hakikatnya terorisme merupakan sebuah fenomena yang bisa datang dari pihak manapun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut definisi Dirjen perlindungan HAM Departemen kehakiman dan HAM ,   terorisme adalah pemakaian kekuatan atau kekerasan tidak sah melawan orang atau properti untuk mengintimidasi atau menekan suatu pemerintahan, masyarakat sipil, atau bagian-bagiannya, untuk memaksakan tujuan sosial atau politik. Jika mengacu pada definisi ini, terorisme bukanlah fenomena agama atau kelompok tertentu. ia tidak lain merupakan sebuah kejahatan tanpa wajah dan nama. Bukan berwajah Islam, kristen ataupun  atas nama kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terorisme memiliki ciri dominan yaitu menggunakan kekuasaan (by force), kekerasan (violence), dan mempunyai tujuan-tujuan politik. Adapaun tujuan politik tersebut selalu dipengaruhi oleh ideologi tertentu.  Tragedi Norwegia, tragedi Oklahoma di Amerika Serikat, Tragedi Bom Bali ataupun sejenisnya yang telah menimpa negeri ini kiranya dapat menjadi contoh betapa pengaruh ideologi mampu membius sebagian orang untuk melakukan kekerasan. Tanpa peduli dari agama apa mereka berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat masalah terorisme, sebetulnya semua menyangkut persoalan ketidakadilan. Artinya, ada kelompok-kelompok yang termarjinalkan dalam sebuah tatanan global yang merasa sering dirugikan dan tidak bisa menyelesaikan permasalahan secara baik. Berangkat dari sini kemudian memunculkan gerakan radikal sebagai respon atas ketimpangan tersebut. Seolah-olah hanya dengan kekerasanlah jalan penyelesaian dapat dicapai. Faktor lainnya adalah mengenai maraknya penyebaran ideologi radikal. Merebaknya ideologi semacam ini juga tak lain sebagai akibat dari ketimpangan sosial-ekonomi-politik dan ketidakailan. Dengan demikian dapat ditarik pendapat bahwa selama tatanan dalam sebuah negara maupun global masih tidak bersahabat terhadap kaum marjinal, ancaman terorisme akan semakin sulit dibendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme dalam bentuk apapun merupakan kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir oleh negara atau agama manapun. Dalam konteks ke-Indonesiaan, perang melawan teror merupakan sebuah keharusan mengingat kemajemukan negeri ini masih memberikan ruang kepada pemikiran maupun kelompok radikal. Keberadaan teror mengancam upaya perdamaian dunia yang berujung pada ancaman terhadap hak hidup setiap orang. Sudah saatnya pemerintah maupun pemegang tatanan global merumuskan persoalan ini secara sistematis dan terpadu. Hal ini bisa direalisasikan dengan melibatkan kalangan masyarakat akademis dan rohaniawan. Sejauh ini penanganan perkara terorisme seolah hanya menjadi  dominasi kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya meredam ideologi radikal,  upaya awal yang perlu dilakukan adalah meminimalisasinya. Segala macam ketimpangan dan ketidakadilan mesti perlahan dihilangkan. Karena selama hal tersebut masih tumbuh subur, maka perjuangan atas nama ideologi tertentu akan semakin subur pula. Kedua adalah dengan melakukan komunikasi intensif terhadap semua pihak yang terkait tindak terorisme. Mulai dari pelaku, aktor intelektual maupun individu-individu yang dekat secara ideologis dengan mereka. Komunikasi semacam ini sering lalai dilakukan bahkan seolah diabaikan. Padahal komunikasi intensif setidaknya mampu memecahkan akar persoalan menuju proses “penyadaran” yang lebih sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-8658074660374313009?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/8658074660374313009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=8658074660374313009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8658074660374313009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8658074660374313009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2011/08/terorisme-perlawanan-kaum-marjinal.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-7114862571759120651</id><published>2011-08-22T19:20:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T19:24:43.376-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sepak Bola Nasional, Mau Kemana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;terbit diharian wawasan edisi 22 Januari 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euforia piala AFF memang sudah berlalu. Kejuaraan sepakbola akbar yang sempat menghipnotis mayoritas penduduk Indonesia itu memang layak mendapat apresiasi publik. Setelah sekian lama sepakbola Indonesia kehilangan simpati masyarakat, perhelatan beberapa waktu lalu seolah mengembalikan semangat baru bagi sepakbola nasional. Rakyat terpikat. Tak peduli pecinta bola atau bukan, golongan ekonomi lemah atau kuat, penguasa ataupun rakyat jelata. Semua kalangan dibuat terkesan oleh aksi impresif Firman Utina dkk. Momen tersebut menggambarkan betapa indah sebuah persatuan dan kesetaraan_dimana penguasa serta rakyat jelata tersenyum dalam senyum yang sama. Senyum kebanggaan terhadap sebelas anak bangsa yang berjuang dibawah panji garuda Indonesia. Rasa nasionalisme pun menemukan tempatnya, setelah sekian lama tersesat akibat terhadang kondisi bangsa yang layaknya pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, lagi-lagi rasa bangga terhadap timnas Indonesia itu  berbanding terbalik dengan pengelolaan terhadap sepakbola nasional. Dugaan politisasi, korupsi seolah selalu mewarnai dunia sepakbola kita. Tak terkecuali pada masa terselenggaranya piala AFF.  Hal ini tak ayal, menimbulkan kekecewaan terhadap kinerja PSSI sebagai induk organisasi sepakbola dinegeri ini. Kalimat “Turunkan Nurdin!” atau “Timnas yes, Nurdin no” menjadi komentar populer yang bahkan lazim menjadi yel-yel para suporter. Rasa kecewa inilah yang mendasari ketidakpercayaan serta ketidakpedulian  terhadap kebijakan PSSI. Ironisnya bak anjing menggonggong kafilah berlalu, petinggi PSSI yang sering mendapat umpatan publik itu tetap saja “ongkang-ongkang” di kursi jabatannya.  Maka tak heran jika sebagian pihak (baca:masyarakat) yang peduli terhadap perkembangan sepakbola menggagas alternatif baru berupa diadakannya kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun siapa sangka, niat baik penggagas LPI berseberangan dengan  PSSI selaku induk organisasi  yang memegang otoritas pembinaan sepakbola di negeri ini. Tudingan bahwa LPI , ilegal,LPI mengacak-acak sepakbola nasional,LPI  tak tahu etika organisasi dan beragam tuduhan lainnya dilontarkan beberapa pembesar PSSI yang tujuannya tak lain untuk menjegal kiprah LPI. Tak tanggung-tangung, bahkan pemain bola yang bergabung dengan LPIpun terkena imbasnya yakni sangsi tak bisa masuk timnas. Tetapi LPI tetap bergeming. Jurus jitu berupa “reformasi total pembinaan sepakbola nasional” menjadi senjata ampuh untuk melegitimasi keberadaan LPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayungpun bersambut. Sebagian klub besar tanah air hengkang dari LSI yang selama ini bernaung dibawah PSSI. Mereka yang tak puas terhadap kinerja PSSI selama ini memilih bergabung ke LPI. Sebagian kalangan menilai LPI sebagai alternatif baru untuk memperbaiki kebobrokan pengelolaan sepakbola nasional. PSSI pun semakin kebakaran jenggot. Tak terima organisasinya disaingi, PSSI lantas menyerang untuk menghalangi terselenggaranya liga primer. Jurus pamungkas berupa Undang-undang  Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 yang digunakan untuk menghadang sepak terjang LPI semakin menambah panas perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sarat Kepentingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati dinamika sepakbola di negeri ini memang kadang menggelikan. Beragam peristiwa dan kasus seputar sepakbola kerap menimbulkan polemik. Baru saja masyarakat dibuat bangga oleh kegemilangan timnas di piala AFF. Bersatu memakai kostum merah dengan lambang garuda menempel didada, kini kembali harus dihadapkan pada konflik beberapa kalangan elit. Bukankah hal semacam ini sangat menyedihkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Demikian pula jika mencermati kasus LPI vs PSSI yang kini masih bergulir. Hemat penulis, inti masalah sebenarnya adalah Arifin Panirogo selaku penggagas dibentuknya Liga Primer Indonesia, disebut-sebut akan maju dalam pemilihan ketua umum PSSI. Entah benar atau tidaknya isu tersebut, yang jelas munas PSSI memang akan digelar sebentar lagi karena masa kepemimpinan Nurdin Halid tinggal 4 bulan. Kiprah Arifin. P dalam persepakbolaan nasional memang tak bisa diragukan. Di periode 2010 sekurang-kurangnya ia telah membuat tiga gebrakan dalam sepakbola. Selain meluncurkan Liga Primer Indonesia, dua diantaranya adalah membuka SECABA sepakbola bekerja sama dengan mabes TNI dan meluncurkan buku putih reformasi sepakbola Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Inilah yang membuat kubu Nurdin berang. Nurdin yang selama ini seolah menjadi “musuh bersama” pecinta sepakbola, harus dihadapkan pada pihak yang pada munas nanti kemungkinan akan menjadi pesaing beratnya. Sedangkan Arifin P sendiri belum atau mungkin enggan untuk berdialog dengan PSSI menyangkut gebrakan yang ia luncurkan. Keduanya terjebak dalam sikap keras kepala masing-masing pihak. Tak bisa dipungkiri sikap egois yang sarat kepentingan  inilah yang semakin menambah kisruh persepakbolaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Mediasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sejauh ini, antusiasme masyarakat terhadap sepakbola nasional masih bergema. Sungguh disayangkan, apabila semangat tersebut harus tenggelam oleh konflik  LPI dan PSSI yang terjadi saat ini. Yang lebih menghawatirkan jika kondisi semacam ini akan menimbulkan perpecahan hingga semakin melemahkan sepakbola nasional. Sepakbola merupakan “bahasa universal”. Ia bisa menjelma menjadi alat pemersatu juga simbol kebanggaan bangsa.  Untuk itu kemajuan sepakbola nasional menjadi harapan bersama. Kemanapun arah yang diupayakan PSSI ataupun LPI , semestinya tujuannya hanya satu yaitu memajukan persepakbolaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun sepakbola yang maju dan professional memang bukan upaya instan. Perlu kesabaran dan pejuangan keras untuk mewujudkannya. Jika konflik semacam ini tidak segera diselesaikan bukan mustahil akan menjadi pemecah sepakbola nasional. Pemerintah dalam hal ini sebagai penengah tak boleh tinggal diam. Mereka harus memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak secepatnya agar konflik yang bergulir bisa menghasilkan solusi terang. Singkatnya kemanapun arah yang mereka tunjukkan, kemajuan sepakbola nasional tetap menjadi tujuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-7114862571759120651?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/7114862571759120651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=7114862571759120651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7114862571759120651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7114862571759120651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2011/08/sepak-bola-nasional-mau-kemana-terbit.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-946346464814031431</id><published>2011-08-22T19:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T19:20:05.447-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencitraan vs Kepekaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;terbit diharian wawasan edisi Februari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tahun keenam menuju ketujuh gaji Presiden belum naik. Betul. Tapi memang saya niati. Saya ingin semua sudah mendapatkan kenaikan yang layak, tepat, dan adil. Tolong laksanakan, implementasikan dengan baik,"  Demikian  salah satu isi pidato presiden dalam rapat pimpinan TNI/ polri beberapa waktu lalu.  Rangkaian kata yang membentuk tak lebih dari 3 kalimat tersebut sempat menggegerkan publik akhir-akhir ini. Media mulai ramai memberitakan. Para akademisi, politikus, dan pihak-pihak  yang merasa berkepentingan turut ambil bagian yang tetap saja ujung-unjungnya adalah perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tak ada yang salah dengan ungkapan  presiden tersebut. Jika dicermati maknanya hampir sama dengan ucapan ayah saya setiap mengingatkan anaknya agar giat  belajar. Logikanya hampir sama seperti kalimat  “ini lebaran ketujuh bapak tidak membeli baju. Betul. tapi memang bapak niati. Bapak ingin semua bisa sekolah, kebutuhan tercukupi. Tolong, belajarlah yang rajin anak-anakku”.  Agak berlebihan memang. Namun, adakah yang salah dengan pernyataan  ini ? Lalu apa pasal yang membuat kalimat yang dilontarkan SBY menjadi sedemikian heboh sehingga melibatkan banyak pihak untuk mengkajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada beberapa ketidakwajaran yang  membuat kalimat tersebut bermasalah. Pertama, ia menyampaikan ungkapan itu didepan publik.  Entah karena faktor spontanitas atau  memang sudah jadi kebiasaan bapak presiden kita. Hasrat untuk curhat dan caper didepan publik seolah menjadi jalan untuk mempertahankan citra positifnya.  Namun curhat soal gaji didepan publik jelas tidak pada tempatnya. Kedua, kalimat tersebut diungkapkan dalam rangka rapim TNI/polri . Dari sekian banyak persoalan hukum dan keamanan di negeri ini, wajarkah jika masalah gaji dilontarkan didepan kalangan yang mana persoalan hukum berada dipundak mereka? Tidakkah sebaiknya curhat masalah hukum yang masih karut-marut?  Ketiga, kalimat tersebut diucapkan ditengah kondisi masyarakat yang pesakitan. SBY tentunya tahu benar bahwa masih ada rakyatnya  yang keracunan “tiwul” karena tak mampu membeli beras. SBY juga mengerti betul bahwa masih banyak warga yang bertahan di barak pengungsian akibat bencana yang sampai kini belum tuntas penyelesaiannya. Maka tak berlebihan , jika pernyataan tentang gajinya beberapa waktu lalu ibarat menabur garam diatas luka yang menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Pencitraan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuh tahun menjadi orang pertama di negeri ini, bukan kali ini saja SBY menggegerkan publik dengan curhatnya. Sudah beberapa kali ia melakukan hal yang sama kendati dengan topik yang berbeda. Bagi penulis, hal ini merupakan kebiasaan ganjil jika tidak mau dikatakan “penyakit” akibat susah payah mempertahankan citra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja tokoh-tokoh agama mengungkap kebohongannya, SBY sudah kerepotan untuk kembali mendongkrak citra positifnya. Kalimat “Ini tahun keenam menuju ketujuh gaji Presiden belum naik. Betul. Tapi memang saya niati” secara tersirat menunjukkan betapa besar keinginan SBY untuk meyakinkan rakyat akan niat mulia dan pengorbanannya. Kendati jika dicermati ungkapan ini dekat sekali dengan sikap tebar pesona dan congkak. Padahal jika mau jujur, tanpa pamer didepan publikpun rakyat sejatinya sudah cukup mengerti untuk menilai baik dan buruk pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kebiasaan ganjil ini tentunya akan berdampak buruk. Apalagi jika diucapkan didepan para jajaran  tentara dan penegak hukum seperti polisi .  Dikhawatirkan, kebiasaan ini menjadi pembenaran terhadap sikap ketidaktegasan pemimpin yang akhirnya dicontoh oleh bawahannya . Lebih mencemaskan lagi, jika curhat hanya dijadikan sebagai media pengalihan isu.  Karut-marut pemerintahan dinegeri ini masih membutuhkan solusi. Sangat tidak arif dan janggal  jika pemimpin yang seharusnya berada digarda terdepan dalam memberbaiki pemerintahan justru memusingkan masalah gaji.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu Pemimpin Peka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Curhat SBY beberapa waktu lalu adalah semacam ironi di Negara yang masih pesakitan. Kondisi rakyat yang susah payah cari makan harus semakin tersakiti dengan ketidakpekaan pemimpin. kegagalan demi kegagalan yang bertambah-tambah, kebohongan-kebohongan yang terus mencuat, citra positif yang semakin tergerus, kekecewaan rakyat yang dalam tak terbendung adalah sederet bukti betapa akut penyakit pemerintahan dinegeri ini. Tapi alangkah baik hatinya rakyat Indonesia. Setelah sekian lama disakiti mereka toh tetap menerima keadaan dengan lapang dada. Satu hal yang rakyat harapkan adalah seperti ucapan orang tua terhadap anak “jika belum bisa membahagiakan, setidaknya jangan membuat jengkel “. Itulah sejatinya yang diharapkan masyarakat. Pemerintah memang belum bisa mensejahterakan rakyat, kendati demikian janganlah menyakiti hatinya. Setidaknya berikan kepekaan terhadap kondisi rakyat yang susah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sejati seharusnya jujur, ikhlas, dan menyatu dengan desah hati rakyatnya. Bukan menyakiti, bukan pula membebani. Dan sikap semacam ini yang didambakan rakyat sejak dulu. Rakyat tak butuh pencitraan, karena citra positif akan berjalan beriringan dengan kinerja yang baik. Jika kinerja baikpun belum bisa diwujudkan, setidaknya berikan kepekaan. Dengan demikian, simpatipun mengalir tanpa diwarnai aroma tebar pesona.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-946346464814031431?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/946346464814031431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=946346464814031431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/946346464814031431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/946346464814031431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2011/08/pencitraan-vs-kepekaan-terbit-diharian.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-899378637681974077</id><published>2011-07-10T19:38:00.000-07:00</published><updated>2011-07-10T19:39:19.006-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kuakui, untuk pertama kali aku  merasa sedemikian runtuh dan terluka.  Sampai hari kemarin segalanya baik-baik saja. Tapi tidak dengan hari ini. Seolah ada yang hilang , lenyap atau sekedar sembunyi. Dan kini semuanya hampir berakhir, meninggalkan lubang yang menganga dihatiku. Sesuatu yang tak pernah kuduga  bahkan tak pernah kumulai sebelumnya .  Seperti berdiri ditebing seorang diri. Yang utuh hanya kekosongan. Ya, kutau ini akan sulit, namun bukankah hanya ini pilihan yang tersisa?  Mengembalikan segalanya seperti awal jelas tidak mudah, karena semua terlanjur kubiarkan merasup  begitu saja. Aku gegabah menyimpulkan semua yang kukira akan berjalan indah. Dan celakanya, aku terlampau lambat menyadari. Namun apa boleh buat. Bukankah mengasihani diri sendiri tak ubahnya kekonyolan? Benar sekarang aku mengerti. Kadang kenyataan memang lebih pahit dari sebuah mimpi buruk. Tak ada yang perlu disesali., Karena semua pada akhirnya hanyalah untaian memorabilia. Semoga اللَّهُ yang maha sempurna mengampuni.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;This is not the end, life has just begun.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-899378637681974077?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/899378637681974077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=899378637681974077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/899378637681974077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/899378637681974077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2011/07/kuakui-untuk-pertama-kali-aku-merasa.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-4738126767043655078</id><published>2010-12-22T21:17:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T21:21:24.760-08:00</updated><title type='text'>TKWI, Wajah Perbudakan Perempuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;terbit diharian wawasan edisi 4 Desember 2010&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap Tenaga Kerja Wanita Indonesia (TKWI), paling tidak dalam beberapa waktu belakangan, telah menjadi isu aktual . Sebuah peristiwa yang sebenarnya bukan isu baru namun kembali menyita perhatian publik setelah dalam sekian waktu mengalami mati suri. Hal ini berawal dari berita kekerasan yang menimpa TKW bernama Sumiati beberapa waktu lalu. Dalam waktu singkat berbagai media secara sporadis mengangkatnya sebagai berita sentral. Kasus-kasus lain yang selama ini tak tercium publikpun turut mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari kasus kekerasan yang seringkali menimpa TKWI, tersimpan sebuah fakta ironis. Sangat ironi, bahwa dalam tatanan masyarakat global yang dibangun diatas prinsip rasionalitas, demokrasi dan humanisasi, budaya kekerasan justru sering tak terpisahkan dari kehidupan para TKWI yang merantau di negeri orang. Kasus  semacam ini memang tidak bisa digeneralisasi. Pasalnya tidak semua TKWI yang bekerja di luar negeri mengalami perlakuan tak manusiawi. Sebagian dari mereka ada pula yang sukses. Namun jika mengamati  beberapa kasus kekerasan yang menimpa beberapa TKWI ,  seolah  menggambarkan eksisnya ketertindasan legal yang didominasi oleh golongan superior terhadap beberapa buruh migran .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ubahnya sebuah praktik perbudakan,dimana majikan berhak sepenuhnya atas diri bawahannya, maka kasus ini seolah mencerminkan bahwa praktik tersebut belum sepenuhnya lepas dalam tatanan masyarakat modern. Bedanya, perbudakan dewasa ini identik berwajah perempuan yang lemah dan inferior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belenggu  Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan tak manusiawi yang diterima beberapa TKWI mengingatkan kita kepada masa kolonial, dimana eksploitasi terhadap  golongan inferior adalah sah. Inilah yang mendasari adanya perbudakan, dimana menempatkan majikan sebagai “penguasa” dan bawahan sebagai “makhluk belian” yang bisa dikuasai secara absolut tanpa adanya timbal balik , termasuk menerima penganiayaan fisik. Tindakan eksploitatif  itu nampak akrab terdengar jika menyinggung soal penganiayaan yang sering diterima pekerja Indonesia oleh majikannya . Kenyataan seperti ini tak pelak mengancam keselamatan perkerja perempuan dan memaksanya menjadi makhluk nonesensial di negeri orang . Menurut hemat penulis,  TKW sebagai golongan yang pada dasarnya “inferior” terjebak paling tidak dalam tiga  belenggu ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,  Bagi pihak pengimpor,  TKW merupakan  “kategori ekonomi”. Sebuah kategori bagi sesuatu yang bisa diperas tenaganya dan bisa dibayar dengan harga semurah mungkin. Kedua,  bagi pengekspor , TKW merupakan “peluang ekonomi”. Peluang bagi masuknya devisa Negara dengan modal seminim-minimnya. Bukankah sudah umum diketahui bahwa TKI merupakan penyumbang devisa terbesar kedua di negeri ini? Dan terakhir bagi TKW itu sendiri, bekerja dinegeri orang memberikan harapan kemapapanan ekonomi yang akan ia raih setelahnya. Kelemahan ekonomi yang makin meningkat memaksanya memasuki bursa tenaga kerja dimana mereka akhirnya terpuruk di sektor-sektor berupah “lumayan” walaupun  nyawa menjadi taruhan. Ironisnya kenyataan yang diterima dilapangan justru kerap berbanding terbalik dengan harapan. Pelecehan seksual, penganiayaan fisik, dan hak yang tak dibayar merupakan persoalan klise yang dihadapi TKW  Indonesia dari masa kemasa. Ketiga belengggu tersebut  menjadi dasar mengapa profesi menjadi TKW (umumnya sektor rumah tangga)  sering dianggap sebagai aternatif jitu dalam  mengatasi persoalan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut diatas cukup masuk akal mengingat gagalnya pemerintah dalam  mengatasi kemiskinan dan pengangguran yang tak terbendung tiap tahunnya. Persoalannya adalah pada praktik eksploitatif  yang sering bersifat legal di Negara pengimpor. TKW diperlakukan tak ubahnya budak. Durasi waktu kerja yang melampaui batas , tidak adanya jaminan kesehatan dan keselamatan, bahkan sering menerima penganiyayaan muncul menjadi sebuah kejahatan tersembunyi. Ironisnya tindakan semacam ini terjadi diatas penjanjian legal bernama “kontrak kerja”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Filiphina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati telah berulang kali terjadi, upaya pemerintah dalam menangani kasus TKW “bermasalah” nampaknya belum menyentuh kulminasi. Persoalannya adalah pada sikap pemerintah yang cenderung reaktif dan bukan prefentif. Padahal idealnya, pemerintah seharusnya turun tangan mulai dari awal. Meliputi perekrutan, penyadaran hukum, pengiriman, penempatan , penertiban agen illegal, serta pengawasan terhadap berjalannya  undang-undang perburuhan, baik yang berlaku di Indonesia maupun dinegara tujuan TKWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sesama Negara berkembang, agaknya Indonesia perlu belajar dari sikap Filiphina. Pemeritah Filipina sadar betul akan gelar terhormat TKW sebagai “pahlawan devisa” yang banyak berjasa bagi perekonomian Negara.  Kesadaran semacam ini dibarengi kepedulian yang luar biasa terhadap nasib para TKW yang bekerja diluar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di Filipina ada lembaga POEA (philipines Overseas Employment Administration) yang mengelompokkan pekerja menjadi tujuh kategori yakni pekerja professional dan teknis, pekerjaan administratif dan manajerial, pekerjaan klerek, tenaga pemasaran, pekerja sektor jasa, pekerja pertanian, dan pekerja produksi. Adanya pengelompokan tersebut memudahkan pemerintah Filipina dalam mendata warganya yang bekerja diluar negeri. Filpina juga mengharuskan adanya negosiasi antara perusahaan pengerah tenaga kerja dari kedua Negara sebelum dilakukan pengiriman, termasuk didalamnya menetapkan standar gaji. Selain itu pemerintah Filipina secara langsung ikut mengawasi sejak masa perekrutan meliputi pelatihan keterampilan, penanaman nilai-nilai sosial dan profesionalisme. Prinsipnya adalah tenaga kerja yang dikirim dari Filipina harus berkualitas, professional, jujur dan disiplin untuk mampu bersaing dengan pekerja dari Negara lain di pangsa internasional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Indonesia perlu belajar untuk menerapkan sistem yang berlaku di Filipina sesuai dengan keadaan. Agar kelak TKWI lebih dihargai sebagai manusia. Jika pemerintah mampu menerapkan upaya kesinambungan untuk kesejahteraan dan keselamatan TKW, kita berharap bahwa suatu saat tak ada lagi “pahlawan devisa” yang diperlakukan layaknya budak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-4738126767043655078?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/4738126767043655078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=4738126767043655078' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4738126767043655078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4738126767043655078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/12/tkwi-wajah-perbudakan-perempuan.html' title='TKWI, Wajah Perbudakan Perempuan'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-7494924570625167569</id><published>2010-08-11T20:08:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T20:11:34.965-07:00</updated><title type='text'>cerita anak "fabel"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Burung Beo Yang Cerdik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;terbit diharian suara merdeka edisi 1 agustus 2010 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebuah hutan yang sangat luas, tinggalah sekelompok hewan yang  yang hidup dengan rukun dan tentram. Tempat tinggal itu dikepalai oleh seekor kera yang bijak dan penyayang. Pada suatu pagi ada suatu masalah yang sangat rumit yaitu hilangnya mahkota raja kera. Tidak ada satu hewanpun dikawasan itu  yang dapat mencari mahkota raja kera. Akhirnya datang satu hewan yang ingin mencari mahkota raja kera tersebut yaitu seekor burung Beo.  Setelah menemui raja Kera dan bercakap-cakap dengannya, beopun pulang kerumah. Malamnya Beo tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan bagaimana caranya menemukan mahkota raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Beo memutuskan untuk mencari mahkota raja ke pedalaman hutan. Ia berangkat tanpa ditemani siapapun. Ditengah perjalanan, burung Beo melihat ada begitu banyak bulu-bulu yang bersebaran. Burung Beopun mengikuti arah bulu-bulu yang tersebar itu. Akhirnya,ceceran bulu itu berhenti pada disebuah pohon yang sangat besar yang dihuni seekor Gagak. Diatas pohon itu, Beo melihat seekor Gagak yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Mata Gagak itu, menatap Beo dengan tatapan benci. Beopun penasaran .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Apa yang kau sembunyikan itu hai Gagak” tanya Beo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bukan urusanmu. Kenapa kau berani memasuki wilayahku, Beo”  jawab Gagak ketus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku kesini untuk mencari mahkota milik rajaku yang hilang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban Beo, Gagak tertawa sambil mengejek burung Beo &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ha. .ha. .ha. . kau burung Beo kecil mau mencoba mengambil mahkota ini dariku, lebih baik kau pulang saja Beo, dan katakan pada rajamu, sekarang akulah penguasa hutan ini” ucap Gagak dengan lagak sombongnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Oh. .  jadi kau yang mencuri mahkota rajaku,sudah kuduga. Keterlaluan kau Gagak” jawab Beo lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memperdulikan Beo, burung gagakpun terbang membawa mahkota raja.  Ukuran tubuh dan sayap Gagak yang besar , membuat Beo kewalahan mengejarnya.  Karena tak bisa mengejar Gagak, Beo kehilangan jejak. Kemudian Beo memutuskan untuk kembali kerumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, ia terus berpikir bagaimana caranya mengambil mahkota raja dari Gagak besar itu. Setalah cukup lama berpikir, ia menemukan ide. Beo berencana untuk menjebak Gagak dengan membuat perangkap dipohon yang terletak didepan rumah Gagak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam itu juga, Beo terbang kerumah Gagak. Tampak dari luar Gagak sedang tertidur pulas dengan mahkota tergeletak disampingnya. Beopun mulai beraksi. Ia melubangi bagian pohon dan pada sisi-sisinya ia beri getah pohon karet yang sangat lengket. Setelah selesai menjalankan aksinya,pelan-pelan Beo masuk kerumah Gagak dan mengambil mahkota raja. Beo kemudian terbang menuju pohon perangkap tadi. Beo mengambil batu dan melemparkannya kerumah gagak. Gagakpun terbangun, ia kaget bukan main saat mengetahui mahkota curiaannya hilang. Rupanya saat ia keluar dari rumahnya,  Beo sudah bertengger  dipohon depan rumahnya sembari memegang mahkota tersebut. Alangkah murkanya Gagak saat itu. Dengan serta-merta Gagak terbang, hendak menyambar Beo. Gagak tidak tahu jika pohon tempat bertengger Beo telah diberi perangkap. Tanpa menunggu lama, gagakpun masuk kedalam lubang perangkap yang telah diberi getah karet itu. Tubuh gagak tak bisa bergerak. Ia berteriak-teriak meminta pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tolong Beo keluarkan aku dari sini” pinta Gagak dengan wajah memelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tidak ! itu akibat dari perbuatanmu yang telah berani mencuri mahkota raja kera” jawab Beo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ampun Beo, ampun. . .aku tak akan mengulanginya lagi. Sekarang kumohon lepaskan aku” Gagak terus merengek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Aku akan menolongmu, tetapi setelah mendapat ijin rajaku dan setelah kuserahkan mahkota ini padanya” ucap Beo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beopun langsung terbang dari tempat itu untuk menyerahkan mahkota milik raja kera. Sesampainya di wilayah raja kera, Beo disambut dengan suka cita. Semua hewan berteriak “ hidup Beo! Hidup Beo!” . Raja kera sangat banggga kepada Beo. Ia kemudian mengangkat Beo menjadi menjadi wakilnya, sedangkan burung gagak diberi hukuman dengan terus berdiam di perangkap itu untuk waktu yang lama. Keadaan hutanpun menjadi kembali tentram. Semua itu karena kecerdasan burung Beo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-7494924570625167569?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/7494924570625167569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=7494924570625167569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7494924570625167569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7494924570625167569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/08/cerita-anak-fabel.html' title='cerita anak &quot;fabel&quot;'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-2750380802459714953</id><published>2010-07-04T22:55:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T22:57:44.708-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Media introspeksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; terbit diwawasan edisi 22 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIDEO mesum dengan pemeran mirip artis, akhir-akhir ini memunculkan terror baru bagi masyarakat. Tak hanya menjadi perbincangan hangat diberbagai media, video tersebut juga turut muncul ke permukaan dan dikonsumsi oleh khalayak, bahkan hingga luar negeri. Tersebarnya video mesum mirip artis tersebut memang memiriskan. Miris, karena video itu mempertontonkan suatu hal yang tak layak dilihat publik secara umum. Miris karena di dalamnya melibatkan publik figur yang banyak dijadikan idola dan kiblat masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris, karena pihak yang mengonsumsi bukan saja mereka yang cukup umur tetapi juga remaja dan anak-anak. Dan miris, karena begitu mudahnya aib orang diunduh, tersebar dan diperbincangkan di negeri yang konon menjunjung tinggi adat ketimuran. Yang tak kalah miris, karena video heboh itu mampu mengalihkan opini publik terhadap permasalahan pelik bangsa yang seharusnya mendapat proporsi prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya fenomena semacam ini bukan kali pertama terjadi di negeri ini. Menilik ke belakang, banyak kasus serupa yang tak kalah menghebohkan. Lepas dari asli atau tidaknya video tersebut, hal ini cukup memberikan beberapa gambaran akan potret sikap bangsa kita terhadap kemajuan teknologi. Betapa sebagian besar dari masyarakat kita telah menjadi hamba teknologi akut. Dikatakan hamba karena kebanyakan mereka hanya menerima produk-produk teknologi apa adanya tanpa memilah mana yang layak dikonsumsi dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba akut, karena berawal dari sini memunculkan konklusi bahwa seolah bukan manusia yang mengendalikan teknologi, tapi sebaliknya teknologilah yang seakan menjelma sebagai pengendali manusia. Sebagai contoh, saat muncul video yang tak layak dipertontonkan, banyak dari mereka berperan menjadi konsumen sekaligus distributor (pengedar) dengan menyebarkannya kepada orang lain. Jika mau patuh dengan apa yang tercantum dalam undang-undang, tentu akan banyak kalangan yang terseret ke meja hijau akibat penyebaran berantai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era keterbukaan seperti sekarang, perkembangan teknologi terutama teknologi informasi memang luar biasa. Kemajuan dalam bidang ini masuk dalam setiap aspek kehidupan manusia. Tak ada lagi celah antara ranah privasi dan ranah umum. Namun pertanyaanya kemudian, salahkah jika teknolgi berkembang begitu pesat? Bukankah lagi-lagi manusia juga yang mengembangkannya? Tentu bukanlah hal yang bijak jika kemudian hasil inovasi manusia inilah yang disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari sinilah, publik membutuhkan apa yang dinamakan sebagai teknologi yang memanusiakan yakni teknologi yang menempatkan manusia tak hanya sebagai objek penikmat namun juga pengendali. Kehadirannya sanggup membawa pencerahan dan nilai positif bagi masyarakat. Berbicara mengenai hal ini, memang kembali kepada sikap masing-masing individu. Namun, jika direlasikan, perkembangan teknologi dan sikap individu tentu memiliki interaksi yang erat dan saling berpengaruh. Paling tidak memenuhi dua pengaruh, maka teknologi dapat dikatakan memanusiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pengaruh bagi tiap individu yaitu agar setiap individu dapat bersikap bijak dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai teknologi membuat seseorang terseret kepada perbuatan bodoh yang akhirnya hanya merugikan diri sendiri. Ambil contoh seperti yang terjadi pada beberapa artis. Sikap ceroboh dan kurang bijak banyak menyeret mereka melakukan tindakan-tindakan "aneh"  dengan merekam aktivitas privasi mereka. Kemudian, ketika rekaman tersebut tersebar, barulah sebagian sadar bahwa mereka telah menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat inilah kalimat "jangan telanjang di depan kamera" menemukan esensinya. Kedua Pengaruh bagi masyarakat yakni berupa pembentukan kesadaran publik untuk tetap bijak berpegang pada norma-norma masyarakat dalam menyikapi perkembangan teknologi. Jika kesadaran semacam ini telah terbentuk, peran teknologi tidaklah melulu pada sarana hiburan atau pembantu kerja manusia. Lebih dari itu, peran yang tak kalah penting adalah sebagai media introspeksi bagi masyarakat."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-2750380802459714953?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/2750380802459714953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=2750380802459714953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/2750380802459714953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/2750380802459714953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/07/media-introspeksi-terbit-diwawasan.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-344118786204675526</id><published>2010-05-05T05:00:00.000-07:00</published><updated>2010-05-05T05:02:16.801-07:00</updated><title type='text'>Republik Pentungan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; terbit diharian seputar indonesia (24 April 2010)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi kemanusiaan yang identik dengan tindak kekerasan bukan sekali dua kali melanda negri ini. Jika mau menengok sejarah, niscaya banyak ditemukan tebaran tindak kekerasan yang seolah sering mengiringi langkah perkembangan bangsa. Ironisnya, tragedi kekerasan yang jelas bertentangan dengan kepribadian bangsa tersebut justru sering dilakukan oleh pihak penguasa. Pihak yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat (baca: rakyat) dan penjunjung tinggi perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Mei 98, tragedi semanggi, atau yang masih segar diperbincangkan yakni tragedy makam mbah priok merupakan beberapa contoh betapa tindak represif aparatur Negara sebagai perpanjangan tangan dari penguasa seolah melegitimasi adanya kekerasan untuk memaksakan kehendaknya kepada rakyat. Catatan historis negeri ini telah begitu banyak mengungkap hal yang senada.Penguasa yang seharusnya menjadi pelindung rakyat menjelma menjadi monster antirakyat yang siap menindas siapapun yang berseberangan Alur selanjutnya dapat ditebak, lagi-lagi rakyat yang harus merasakan impact yang tak menyenangkan. Maka tak heran jika kemudian muncul istilah bahwa Indonesia merupakan the country of violence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekerasan dan Penguasa”. Dua kata benda berbeda yang tak bisa dikatakan tak saling berhubungan. Keduanya memiliki jalinan kuat terkait dengan kokohnya hegemoni. Dalam hal ini, penguasa tak jarang melakukan tindak kekerasan untuk meneguhkan hegemoni dan kehendak mereka secara paksa. Ranah demokrasi yang seharusnya mampu membangun relasi harmonis antara rakyat dan penguasa justru menjadi ajang  batu hantam demi ego masing-masing pihak.  Dialog dan musyawarah sebagai salah satu representasi demokrasipun berubah menjadi pentungan dan batu. Ironis memang. Republik yang seharusnya kokoh berdiri diatas pilar demokrasi terpaksa harus tegak dibalik batu dan pentungan. Jika hal ini berlangsung terus-menerus bukan mustahil akan mengancam identitas Indonesia sebagai bangsa yang ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun tidak ada yang menyepakati adanya kekerasan apapun alasan yang mendasarinya. Apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh pihak yang seharusnya mengayomi rakyat. Namun mengapa hal ini sering terjadi? Bahkan seolah menjadi solusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti umum diketahui, kekerasan muncul manakala antara pihak yang bertikai sama-sama teguh dengan pendirian dan egonya. Buntunya solusi turut mendorong mereka untuk menghalalkan tindak kekerasan sebagai jalan mengakhiri pertikaian. Namun bukan akhir bahagia yang didapat, tetapi justru berakhir dengan pertumpahan darah. Penguasa yang yang represif dan rakyat yang merasa tertindas mau tak mau harus memakan tumbal atas nama ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari segala alasan yang mendasarinya, nampak bahwa sudah saatnya Negara bertindak arif dalam mengambil kebijakan. Jangan sampai apa yang menjadi kehendak pemerintah justru menyulut emosi dan menindas rakyat. Dalam hal ini dialog dan musyawarah harus kembali digalakkan oleh kedua belah pihak yaitu Rakyat dan penguasa.  Jika dialog belum mampu memecahkan persoalan, seharusnya bukan tindak represif yang dilakukan, akan tetapi bagaimana agar kedua belah pihak dapat duduk berdampingan untuk kemudian bersama mencari solusi yang tepat tanpa merugikan salah satu pihak. Tanpa disertai emosi yang meluap-luap , bukankah jika hal ini digalakkan, setidaknya mampu menjadi solusi elegan bagi problematika bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-344118786204675526?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/344118786204675526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=344118786204675526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/344118786204675526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/344118786204675526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/05/republik-pentungan.html' title='Republik Pentungan'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-1362937287742886164</id><published>2010-04-20T20:50:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T21:03:06.185-07:00</updated><title type='text'>Wabah Hipokrasi Intelektual</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;terbit diharian solopos edisi 20 April 2010&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Membuat karya ilmiah tanpa harus pusing mencari referensi dan melakukan penelitian? Gampang! cari saja di google” .  Kalimat tersebut mungkin pas untuk menggambarkan betapa mudahnya seseorang melakukan penjiplakan di era digital seperti sekarang. Mudahnya akses informasi dan terbastanya waktu yang dimiliki membuat sebagian kalangan dengan mudah mencuri property intelektual orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri. Ironis memang. pesatnya kemajuan IPTEK yang seharusnya mampu menjadi tonggak terbentuknya generasi yang bermartabat justru menjadi pencetak generasi hipokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus terkuaknya tindakan plagiat oleh seorang guru besar universitas Parahyangan beberapa waktu lalu barangkali bisa jadi semacam potret buram dunia pendidikan di Indonesia . Hal tersebut mencerminkan betapa praktek plagiat atau copy-paste juga bisa dilakukan oleh kalangan guru besar yang seharusnya berada di garda terdepan dalam memajukan pendidikan. Setelah terkuaknya kasus tersebut , bukan tidak mungkin ada juga kalangan dosen atau guru besar yang melakukan tindakan senada. Baik itu  yang terungkap ke publik maupun yang hanya menjadi rahasia pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinegara manapun plagiarisme termasuk tindakan “kejahatan intelektual”  yang dapat dikategorikan  juga sebagai pencurian properti intelektual seseorang . Apalagi jika tindakan ini terjadi dalam dunia pendidikan yang tergolong sebagai ladang intelektual . Plagiarisme tak ubahnya tindak kriminal yang merugikan beberapa pihak dan turut mencemari keagungan wilayah akademis.Ironisnya, banyak kalangan civitas akademika terjebak dalam praktek kejahatan ini, entah itu dalam penulisan skripsi, tesis maupun makalah yang tidak lain merupakan menu wajib seorang akademisi. Sudah tak asing lagi cerita tentang  mahasiswa yang menyewa jasa pembuatan skripsi atau karya ilmiah yang sudah barang tentu diragukan keabsahannya, ditambah lagi dengan mudahnya akses informasi sehingga seseorang dapat dengan mudah mengkopi-paste karya ilmiah tanpa menyebut sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alternatif  Pragmatis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai plagiarisme tak bisa lepas dari faktor yang mendasarinya. Secara umum kalangan civitas akademika sangat memahami akan pentingnya menghargai dan memberikan pengakuan terhadap karya ataupun gagasan orang lain. Oleh karenanya, setiap kali mengutip atau menggunakan pendapat orang lain, menjadi keharusan untuk menyertakan nama dan karyanya. Alasannya jelas, bahwa karya dan gagasan yang diambil merupakan bentuk properti intelektual yang sangat berharga bagi penemu gagasan. Lalu kenapa praktik plagiarisme justru banyak menghinggapi kalangan civitas akademika ? Tak lain, karena dalam posisi sebagai civitas akademika, mahasiswa  akan dibebani oleh banyak aturan dan tuntutan yang harus dipenuhi . Hal umum yang lazim dimengerti  adalah tuntutan untuk memperoleh IPK tinggi dengan diiringi oleh tugas pembuatan karya ilmiah dan sebagainya. Dengan modal pengetahuan,referensi dan waktu yang terbatas , tak jarang mahasiswa menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan melakukan penjiplakan. Disamping itu, menjamurnya teknologi yang memudahkan akses informasi juga berperan dominan dalam memudahkan aksi plagiarisme. Tanpa melalui proses berpikir panjang, seorang mahasiswa dapat begitu mudah mendapatkan berbagai jenis karya ilmiah dari internet. Alur selanjutnya bisa ditebak. Tulisan dicopy-paste, diedit  seperlunya dan diganti dengan nama sendiri tanpa menyebutkan sumbernya. Dari yang penulis amati,hal seperti ini umum terjadi __kalau tidak mau dibilang “sudah tradisi”. Berawal dari sinilah budaya semacam ini seolah menjadi alternatif jitu untuk menunaikan tuntutan pendidikan terutama bagi mereka yang bermental pragmatis. Padahal, disadari atau tidak tindakan semacam ini tak lain merupakan ujung belalai dari merambahnya gurita penipuan dalam dunia pendidikan. Jika hal ini dibiarkan, bukan mustahil akan menjadi batu sandungan bagi perkembangan dunia pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Indikasi Dekadensi Moral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merebaknya tindakan plagiat menandakan adanya dekadensi moral dalam tubuh akademisi. Wilayah akademis yang seharusnya menjunjung tinggi  nilai-nilai kejujuran seolah telah ternoda dengan prinsip “cari enak” dari sebagian orang. Mental pragmatis dan jiwa hipokrit akademisi penganut budaya “cari enak” turut melegitimasi adanya alternatif tercela ini. Harga diri dunia pendidikanpun terabaikan demi ambisi pribadi. Tak perlu lagi peduli dengan prinsip-prinisp agung pendidikan, asal tugas terpenuhi dan gelar tercapai, tindakan tercelapun dapat dilakukan.  Hasil akhir menjadi destinasi utama dibandingkan dengan proses dan kerja keras  yang harus dijalani. Destinasi inilah yang kemudian memunculkan wabah-wabah dusta, penipuan, pemalsuan, dan kemunafikan intelektual diwilayah akademis .Wilayah yang seharusnya sarat dengan nilai pembelajaran dan kejujuran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plagiarisme memang bukan perkara baru. Namun, di Indonesia upaya untuk menangani perkara buruk  ini agaknya tidak terlalu menampakkan keseriusan . Dibeberapa Negara maju, tindakan menjiplak karya orang lain dapat berdampak pada dikeluarkannya seorang murid dari sekolah atau universitas. Nampaknya hal ini perlu dicontoh oleh pemerintah Indonesia . Sejauh ini, belum ada pemanfaatan teknologi di Indonesia untuk mereduksi tindakan plagiat. Padahal dinegara lain banyak yang sudah mengembangkan piranti lunak untuk mendeteksi tindakan plagiat. Langkah semacam ini  seharusnya perlu mendapat perhatian pemerintah, Karena sanksi akademis saja  belum cukup untuk mengurangi plagiarisme. Selanjutnya,  upaya yang tak kalah penting adalah memberikan pemahaman dan kesadaran akan buruknya plagiarisme kepada setiap civitas akademika. Penanaman kesadaran ini perlu digalakkan sejak dini. Jika kesadaran akan buruknya plagiarisme telah terbentuk oleh tiap individu, setidaknya dapat membuka jalan untuk memperbaiki moral dan martabat bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-1362937287742886164?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/1362937287742886164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=1362937287742886164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1362937287742886164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1362937287742886164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/04/wabah-hipokrasi-intelektual.html' title='Wabah Hipokrasi Intelektual'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-8917076361934656155</id><published>2010-02-22T21:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:10:24.688-08:00</updated><title type='text'>Tampilkan Sikap Elegan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;(terbit diharian wawasan : 9 Februari 1010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran mahasiswa dalam mengantar dan mengawal gerakan reformasi tak bisa diragukan lagi. Sejarah mencatat, kekuatan besar dari berbagai elemen mahasiswa mampu menumbangkan penguasa orde baru yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa pada tahun 1998. Paska tumbangnya orde baru, genderang reformasi yang dimotori mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mulai bergema. Sejak saat itu, eksistensi mahasiswa sebagai director of change seolah bangun dari tidur panjangnya. Mahasiswa dengan tekad dan idealisme yang menghujam mampu menjadi lokomotif reformasi demi mewujudkan mimpi Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heroisme mehasiswa pada masa itu, menjadi semacam legitimasi betapa kekuatan pemuda-pemuda terdidik mampu membawa perubahan signifikan dinegri yang tengah terpuruk dalam beragam krisis multidimensi. Mahasiswa menjelma menjadi kekuatan baru untuk melawan berbagai ketimpangan dalam tatanan sosial dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikorelasikan dengan masa sekarang, sesungguhnya peran tersebut masih tetap eksis. walaupun tidak seheroik pada masa pra runtuhnya orba, andil mahsiswa era sekarang tetap besar dalam memperbaiki tatanan sosial dan politik. Terbukti, ditengah karut-marut suasana pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II, mahasiswa tetap berada di garda terdepan dalam mengkritisi kinerja pemerintah .Ditandai dengan maraknya aksi demontrasi, mahasiswa tak hanya gembar-gembor dijalan, tapi juga memberi gagasan-gagasan cemerlang untuk pemerintah. Sayangnya pemerintah agaknya enggan beranjak untuk menggodok aspirasi mereka. Suara-suara kritis mahasiswa tak ubahnya angin lalu. Nyaris tak tertanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya terkesan acuh tak acuh, akhir-akhir ini pemerintah malah menyayangkan berbagai aksi mahasiswa tersebut. Alih-alih menanggapi aspirasi mereka, pemerintah justru menyesalkan tindak demonstrasi mahasiswa yang terkesan anarkis. Padahal terlepas dari segala pro kontra mengenai aksi mahasiswa , sesungguhnya gagasan dan aspirasi yang mereka sampaikan menyimpan muatan yang cerdas, kritis dan membangun. Andai setiap aspirasi mereka mendapat tanggapan dan digodok di pemerintahan, bukankah tidak mustahil hal ini mampu menjadi solusi ditengah beragam problematika pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Perubahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi fakta bahwa pada dasarnya pemerintah seolah cuek dengan aspirasi mereka, lantas pesimiskah mahasiswa?, Langkah apa lagi yang seharusnya ditempuh agar tuntutan mereka terpenuhi atau paling tidak didengar oleh pihak yang berwenang? Memang bukan persoalan mudah untuk mencari jalan tengah yang bijak, mengingat sedemikian peliknya persoalan bangsa ini. Namun, jika masing-masing pihak baik dari pemerintah maupun mahasiswa bisa menampilkan sikap yang elegan dan professional bukan mustahil akan sama-sama menemukan solusi jitu demi perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal mungkin bisa dimulai adalah dengan memperbaiki manajemen demonstrasi. Dari yang penulis tangkap selama ini, aksi demo mahasiswa memang terkesan anarkis dan kurang tertib. Semua orang tidak ada yang menyukai ketidaktertiban. Demikian halnya pemerintah. Berawal dari sinilah penyebab aspirasi mahasiswa tidak mendapat tanggapan. Andai dalam melakukan demonstrasi mahasiswa dapat bersikap lebih tertib dan elegan, pasti akan menimbulkan kesan baik dimasyarakat maupun pemerintah sehingga aspirasi yang mereka usungpun akan didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah dengan memusyawarahkan permasalahan yang ada , sehingga dari sini muncul solusi dan saran bagi pemerintah. Kemudian, dengan hasil musyawarah itu mahasiswa dapat mengirimkan beberapa delegasi untuk bertemu secara eksklusif dengan perwakilan pemerintah dalam waktu yang telah disepakati bersama. Dalam pertemuan tersebut delegasi mahasiswa dan perwakilan pemerintah mencoba berunding bersama atas permasalahan dan solusinya. Tanpa disertai kesan amarah dan teriakan yang meluap-luap kedua belah pihak dapat berunding dan berpikir jernih untuk mencapai solusi yang cerdas dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir yang tak kalah pentingnya adalah perubahan dari kalangan pemerintah. Pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang dalam menanggapi aspirasi mahasiswa perlu melakukan perubahan. Jangan hanya duduk mendengar aspirasi mahasiswa distasiun TV kemudian memberi komentar atas aksi mahasiswa diberbagai media, tetapi pemerintah juga perlu mendengar secara langsung aspirasi mereka. Hal ini bisa diawali dengan menyediakan waktu untuk bertemu langsung dengan delegasi mahasiswa dan berdialog dengan mereka sehingga mahasiswapun akan merasa dihargai dan tidak diabaikan. Jika kedua belah mampu melakukan perubahan dan perbaikan dari sistem yang digunakan selama ini , setidaknya masih ada harapan untuk memecahkan problematika bangsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-8917076361934656155?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/8917076361934656155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=8917076361934656155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8917076361934656155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8917076361934656155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/02/tampilkan-sikap-elegan.html' title='Tampilkan Sikap Elegan'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-5316566438958407034</id><published>2010-02-22T21:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:05:49.553-08:00</updated><title type='text'>"Perjelas Pola Integrasi"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(terbit diharian Suara merdeka: 9 Januari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana tentang peintegarsian UN dan SNMPTN memang belum bisa terlaksana pada tahun 2010 mendatang. Akan tetapi kajian dan pro kontra mengenai usulan tersebut agaknya  akan tetap menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan kita.  Banyak hal  menarik yang perlu dikaji  terkait usulan tersebut. Salah satunya adalah terkait pola integarsinya, apakah integrasi yang bersifat mutlak atau integarsi seperti yang disebutkan dalam UU sisdiknas, PP No. 19 tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melihat fakta lapangan yang terjadi dalam pelaksanaan UN selama ini, usulan tersebut memang terkesan agak utopis. Pasalnya hampir setiap tahun pelaksanaan UN selalu diwarnai aneka tindak kecurangan baik dari pihak murid maupun sekolah. Jika hal ini tidak segera diatasi, akan menjadi batu sandungan bagi upaya pengintegrasian UN dan SNMPTN.  Ditambah lagi  terkait dengan tujuan UN dan SNMPTN  yang jelas berbeda. UN bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa sedangkan SNMPTN bertujuan sebagai seleksi terhadap calon mahasiswa terkait program studi yang dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika dilihat dari pola integrasi seperti yang disebutkan dalam UU sisdiknas, PP No. 19 tahun 2005 , saya mendukung ide tersebut.  Dalam PP tersebut menyebutkan bahwa hasil UN dapat dijadikan pertimbangan memasuki PTN dan PT tidak perlu lagi mengadakan seleksi dengan memuat materi-materi yang telah diujikan dalam UN. Dalam hal ini PT cukup mengadakan seleksi untuk bakat, minat dan psikotes calon mahasiswa. Menurut hemat saya, pola integrasi semacam ini menjadi hal yang patut dijalankan karena dapat mengakomodasi kedua tujuan yang berbeda antara UN dan SNMPTN. Hal ini bukan berarti menghapus SNMPTN sepenuhnya, hanya saja materinya yang berubah. Ujian SNMPTN kedepan sebaiknya fokus pada bakat dan minat calon mahasiswa bukan mengulang materi UN. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor efesiensi. Materi SNMPTN selama ini cenderung mengulang materi  yang telah diujikan dalam UN, sehingga hasil UN terkesan mubazhir karena toh hasil UN tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk memasuki PT.  Dengan adanya pengintegrasian tersebut pelaksanaan UN menjadi lebih efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkas kata, perlu kejelasan pola integrasi terkait rencana tersebut. Jika polanya sesuai, diharapkan mampu menjadi terobosan jitu untuk membenahi sistem pendidikan kita yang masih karut-marut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-5316566438958407034?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/5316566438958407034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=5316566438958407034' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5316566438958407034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5316566438958407034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/02/perjelas-pola-integrasi.html' title='&quot;Perjelas Pola Integrasi&quot;'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-7762207828598739516</id><published>2010-02-22T20:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:02:36.626-08:00</updated><title type='text'>Bola Salju Century</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;( terbit diharian seputar indonesia ,27 Januari 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditengah karut-marut suasana pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu II, kasus Bank Century agaknya akan terus menimbulkan ketegangan. Hampir setiap hari, kasus bailout yang menelan 6,7  triliun uang negara ini terus menjadi topik panas media massa . Masyarakat seakan terus dijejali oleh hiruk-pikuk yang tak jelas ujung pangkalnya. Beragam fakta  yang bersumber dari berbagai subyek muncul ke publik dan menambah daftar ketidakpastian dalam  menyelesaikan  skandal keuangan terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia . Ibarat bola salju, kasus century terus menggelinding untuk mencari koordinat yang tepat. Namun ,sejalan dengan pencarian koordinat tersebut , kasus Bank Century semakin menggelinding, membesar, membahayakan dan menyeret berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita isu ketidakharmonisan hubungan  menkeu Sri Mulyani dengan Abu Rizal Bakrie beberapa waktu lalu yang berujung pada kekawatiran akan lengsernya jabatan sang menkeu. Juga isu tentang pecahnya koalisi pro pemerintah yang sempat mengalihkan perhatian publik. Contoh-contoh sederhana tersebut merupakan suatu bukti nyata bahwa upaya penegakan hukum dalam kasus Bank Century agaknya masih jauh panggang dari api. Masyarakat tidak pernah tau sampai kapan masalah ini akan menunjukkan titik terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status bank Century sebagai bank hasil merger yang bermasalah adalah rahasia umum. pertanyaan dasarnya  adalah, apakah suntikan dana dari LPS untuk bank yang bermasalah ini sudah tepat? telah lama publik  menunggu jawaban resmi atas pertanyaan ini. Namun sekali lagi fakta-fakta yang terkuak salama ini memang seakan-akan serba tidak pasti  sehingga memunculkan bermacam pertanyaan-pertanyaan lain yang menambah panjang alur perdebatan . Ironisnya, perdebatan yang semula mengacu pada dampak ekonomi, terus melebar keranah yang cenderung politis hingga menyeret pos-pos penting sebagai kambing hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mereduksi Produktifitas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri, sejatinya masyarakat sudah hampir muak dengan upaya penegakan hukum dalam kasus bank  Century.  Berbagai demonstrasi dan kecaman muncul agar pihak yang berwenang segera menuntaskan kasus ini. ada kesan seolah-olah pemerintah lebih mengedepankan  kepentingan politik masing-masing daripada uapaya menegakkan hukum. Akibatnya, waktu dan energy yang telah lama terkuras seakan sia-sia belaka.  Padahal kedepan, masalah yang harus dihadapi bangsa ini masih menggunung. Jika mau berbicara mengenai oportunity lost, tentu sudah tak terhitung lagi jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, kasus century masih menunggu penyelesaian baik diranah hukum maupun politik melalui pansus hak angket DPR . Kejelasan dan kepastian kasus tersebut masih menimbulkan pesimisme dan optimisme publik. Publik sudah terlalu jenuh dengan perdebatan yang berkepanjangan. Dilain pihak, upaya menegakkan hukum yang berkepanjangan ini, secara langusng berimbas pada produktifitas pemerintah. Tugas pemerintah dalam mengemban amanah rakyat seakan “jalan ditempat” tanpa ada perubahan yang berarti akibat begitu banyaknya waktu yang tersita untuk kasus Century. Terlepas dari segala macam kepentingan, rasanya tidak berlebihan jika pemerintah harus  focus kembali pada tujuan awal pengungkapan kasus Century dengan memfokuskan pada permasalahan yang ada. Jika semua elemen yang berwenang dapat bekerja dengan berpikir sehat dan jujur, setidaknya harapan untuk menegakkan keadilan dinegri ini bukan sekedar utopia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-7762207828598739516?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/7762207828598739516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=7762207828598739516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7762207828598739516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7762207828598739516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2010/02/bola-salju-century.html' title='Bola Salju Century'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-159400299116913386</id><published>2009-12-16T20:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-16T20:37:16.531-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dinamisator Pendewasaan Sikap Berpolitik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;terbit diharian wawasan edisi 15 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan SBY untuk mempertahankan citra positifnya agaknya masih penuh batu sandungan yang tak segan membuatnya jatuh bangun. Setelah menang pilpres putaran kedua, banyak kalangan yang meragukan kredibilitas SBY sebagai pemimpin yang tegas. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya pasca  pelantinkan dirinya sebagai presiden, banyak kasus besar yang seakan lamban ditanganinya. Berawal dari kasus mafia peradilan hingga kriminalisasi KPK dan kasus terahir yang tak kalah hebohnya adalah kasus bank century. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya dinilai lamban, SBY juga tak jarang memunculkan kontroversi publik dengan pidato-pidatonya yang penuh ambiguitas. Tak ayal citra positif SBY sebagai pemimpin karismatik, lambat laun tereduksi menjadi figur yang penuh keraguan. Menyingkapi hal ini, muncul kemudian berbagai wacana dan demonstrasi sebagai wujud krtitik terhadap sikap lambannya kepemimpinan SBY. Ironisnya, sejalan dengan derasnya arus kritik dan demonstrasi, SBY justru kembali memunculkan kontroversi dengan pidatonya dalam rangka menyambut hari korupsi beberapa waktu lalu. Dalam pidatonya ia mengungkapkan kecurigaan adanya “penunggang” dibalik demo anti korupsi. Namun, pada kenyataannya ungkapan itu tidaklah terbukti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang salah dengan ekspresi kecurigaan tersebut. Menurut hemat penulis, hal itu tidak lain adalah sebagai bentuk kewaspadaan (antisipasi) mengingat masalah yang dihadapi negri ini sudah semakin pelik, sehingga tak menutup kemungkinan akan adanya sebagian kalangan yang memanfaatkan situasi pelik itu untuk mencapai tujuan pribadinya. Sejarah historis negri ini telah begitu banyak mencatat hal yang senada. Namun, sikap tersebut menjadi kurang arif manakala diumbar dalam bentuk pidato kenegaraan yang tak hanya disaksikan oleh anggota dewan namun juga masyarakat pada umumnya. Jika pada kenyataanya kecurigaan yang telah mencuat kepublik itu tidak terbukti, hal ini justru akan menjadi alat pemecah belah yang berpotensi memunculkan sikap saling curiga. Akibatnya, mimpi mewujudkan persatuan bangsa bisa menjadi sekedar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;utopia&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dinamika kepemimpinan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai kepemimpinan, sudah menjadi hal yang mathum jika sikap seorang pemimpin tak selamanya sejalan dengan kemauan rakyat. Ada kalanya pemimpin harus bersikap waspada dan hati-hati dalam mengambil tindakan. Namun, hal ini bukan berarti menjadi alat legitimasi  bagi seorang pemimpin untuk bertindak semaunya. Seorang pemimpin yang paripurna tercermin dalam ucapan dan tindakannya yang selalu menyatu dengan harapan rakyat. Ia akan terus berada di garda terdepan dalam mengupayakan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya tanpa takut ada yang “menjegal” ditengah jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ungkapan Komaruddin Hidayat, jika seorang pemimpin jiwanya jujur, ikhlas, cinta rakyat dan mau belajar, rasanya tidak perlu khawatir akan jatuh dari jabatan atau dijatuhkan dari jabatannya. Tidak merasa berada dibawah hingga takut terinjak dan tidak pula merasa diketinggian sehingga takut jatuh. Ia akan menyatu dengan hati dan desah rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menjadi hal sangat diharapkan, jika ungkapan tersebut diterapkan dalam jiwa kepemimpinan SBY saat ini. Korelasinya adalah bahwa berbagai kasus yang diikuti oleh berbagai demonstrasi dan kritik yang tertuju padanya, tidak lain merupakan dinamisator untuk mendewasakan dirinya. Tak perlu berjuang keras mengejar citra karena pada hakikatnya perjuangan yang siginfikan adalah bagaimana memenuhi harapan rakyat seperti yang dijanjikan pada masa kampanye dirinya dulu. Jika perjuangan itu terwujud , setidaknya rakyat akan tetap PD berkata “lanjutkan SBY” bukan malah sebaliknya “lepaskan SBY”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah saat yang tepat bagi SBY untuk merevitalisasi semangat dinamis kepemimpinannya yang pernah melahirkan kepercayaan besar dari rakyat. Saat ini bangsa indonesia tengah berada dalam kondisi sakit. Untuk mengobatinya perlu upaya yang progresif dan efisien. Kesembuhan dan masa depan bangsa ini banyak ditentukan oleh bagaimana pemimpinnya bersikap. Jika sikap pemimpinnya lemah ( &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lack of leadership&lt;/span&gt; ) dan ragu-ragu, akan menyebabkan indonesia terperangkap dalam kondisi pesakitan. Sebaliknya, jika pemimpinnya memiliki semangat dinamis dan integritas yang tinggi dalam mengembangkan sistem pemerintahan yang baik dan bersih ( &lt;span style="font-style:italic;"&gt;good and clean&lt;/span&gt;), maka tidaklah mustahil untuk meraih mimpi Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkas kata, terlalu besar ongkos yang harus dibayar bila seorang pemimpin terperangkap dalam sikap ragu. Sebab, segala jerih payah untuk mewujudkan mimpi bangsa selama ini menjadi sia-sia belaka. Oleh karena itu, bangkit dari keterpurukan dengan menanggalkan sikap ragu menjadi sebuah kemestian  yang menjadi harapan besar bagi kemajuan bangsa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-159400299116913386?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/159400299116913386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=159400299116913386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/159400299116913386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/159400299116913386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/12/dinamisator-pendewasaan-sikap.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-3036654553411807665</id><published>2009-09-01T23:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T23:10:22.012-07:00</updated><title type='text'>ingat ALLAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saat masa itu tiba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;saat masa itu tiba, masihkah sempat kita ingat apa-apa yang kita kagumi selama ini&lt;br /&gt;saat masa itu tiba, masihkah kita sempat berucap "aku mencintaimu" kepada seseorang yang singgah dihati kita&lt;br /&gt;saat masa itu tiba, masihkah kita sempat berlari mengharap lengan yang siap kan merengkuh tubuh kita....&lt;br /&gt;dan saat masa itu tiba, adakah sesuatu yang kita banggakan selama ini berarti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGGUH saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi oleh nya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan, tempat yang telah memisahkan kita dengan semua keindahan semu, dengan laut yang biru, senja yang jingga,buah yang ranum dan senyum manis sang pujaan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi itu? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepada ku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu?&lt;br /&gt;Sanggupkah aku menjawabnya? …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan aku katakan, ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku? Cukupkah kujawab: Rabb-ku adalah ALLAH? Semudah itukah menghadapi fitnah ditempat itu? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku?” Bolehkah aku beranggapan: “Bahwa tanda keridhoan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku maksiat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang tha’at dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Robbi. Ternyata tak ada jalan untuk mengenal Mu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat- Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasaan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah dialam sana? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia -sebelum di akhirat kelak tentunya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Agama ini tidak realistis, kurang membumi?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Jaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah?” Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu; sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalam nya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku dari nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Semudah itukah fitnah dialam itu? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya; tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?” Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat?” Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan? Mengapa akal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Robbi. Kalau bukan karena hidayah-Mu; sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabann ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggupkah aku menjawabnya? …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal. Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya ALLAH. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ALLAH meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…” (Ibrahim: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Ushuluts Tsalatsah&lt;br /&gt;sekali lagi, saat masa itu tiba, masihkah ada waktu bagi kita walau untuk sekedar merenung akan hitamnya noda hidup yang akan kita bawa menghadap nya.laailahaillaanta subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-3036654553411807665?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/3036654553411807665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=3036654553411807665' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/3036654553411807665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/3036654553411807665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/09/ingat-allah.html' title='ingat ALLAH'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-5860675040398989123</id><published>2009-08-26T21:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T22:30:20.860-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt; oleh rumi: terbit di harian wawasan edisi 25 Agustus 09&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendidikan Moral Dalam Bias Globalisasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai pendidikan moral tak bisa lepas dari kondisi Zaman yang terus berkembang. Sejarah historis kemerosotan pendidikan moral di Indonesia terkait erat dengan derasnya arus globalisasi. Era global telah menyeret Indonesia memasuki era kompetitif yang memaksa untuk mengejar ketertinggalannya dengan bangsa lain. Ironisnya, hal tersebut justru mengantarkan Indonesia menuju krisis multidimensi dalam berbagai sektor tak terkecuali sektor pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pada era global ini cenderung mengedepankan aspek intelektual tanpa adanya penanaman nilai moral dan sikap kemanusiaan yang efektif. Proses pendidikanpun lebih bersifat sekedar “transfer ilmu” bukan pembentukan karakter. Akibatnya peran dan tujuan pendidikan yang notebene adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas SDM serta proses pendewasaan sikap harus tereduksi menjadi media pencetak generasi kualitas “robot”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri globalisasi telah membawa dampak positif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia namun disisi lain ia juga telah menggeser nilai-nilai luhur bangsa yang semula menjadi kelebihan dan ciri khas bangsa Indonesia. Dunia pendidikan saat ini sering menerima kritikan dari masyarakat akibat kurangnya kontrol terhadap peserta didik. Banyak pelajar terlibat kasus tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, penyimpangan sexual dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Selain itu budaya hedonis juga marak menghinggapi kaum pelajar. Kiblat mereka bukan lagi norma agama dan susila namun berganti menjadi televisi, tabloid remaja, internet dan berbagai jenis teknologi infromasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang salah dengan merebaknya media-media tersebut selama penggunaanya untuk hal-hal yang besifat positif, namun aktualisasinya ternyata masih jauh dari harapan. Sebagian kaum pelajar banyak yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk hal-hal yang bersifat negatif. Mereka cenderung mudah meniru apa yang ditampilkan media tanpa memperhatikan sesuai atau tidaknya dengan jati diri dan kultur sosial. Akibatnya munculah kemudian generasi-generasi plagiat dan individualis dengan moral minimalis. Hal inilah yang menjadi tantangan besar dunia pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Reaktualisasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Derasnya arus globalisasi adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari namun bukan berarti tidak dapat difilter. Globalisasi seharusnya bisa menjadi wadah untuk mencetak manusia yang dewasa, kreatif, dan produktif bukan malah menjadi wadah perusak moral. Dalam hal ini pendidikan menjadi harapan utama untuk mengatasi kemersotan moral bangsa sebagai efek negatif globalisasi. Pertanyaanya adalah pendidikan yang bagaimanakah yang dapat menanggulangi krisis moral di negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional bab IX pasal 39 butir 2 menyebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan pancasila, pendidikan agama, dan pendidikan kewarganegaraan. Jelas undang-undang ini menjadi dasar tentang keharusan mengaktualisasikan pendidikan agama dan moral dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun pada pelaksanaanya banyak kendala yang menghadang salah satunya adalah benturan globalisasi yang banyak menggeser arajan pokok pendidikan agama dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa strategi yang perlu dikembangkan untuk memantapkan pengajaran moral dalam pendidikan di Indonesia. Pertama, Menurut Abudin Nata dengan memantapkan pelaksanaan pendidikan agama karena nilai-nilai dan ajaran agama pada akhirnya ditujukan untuk membentuk moral yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menerapkan pendidikan moral dimasyarakat. Seperti halnya pendidikan moral disekolah, masyarakatpun memiliki peranan penting dalam pembinaan moral anak didik. Masyarakat yang bermoral baik akan melahirkan generasi yang baik, sebaliknya masyarakat yang bermoral buruk akan melahirkan generasi yang rusak. Ketiga, merubah orientasi pengajaran moral disekolah yang semula bersifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;subject matter oriented&lt;/span&gt; yakni fokus pada pengajaran moral dalam arti memahami dan menghafal sesuai kurikulum menjadi pengajaran moral yang berorientasi pada pengamalan, pembentukan karakter dan penumbuhan sikap kemanusiaan melalui pembiasaan hidup sesuai dengan norma agama dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan wadah untuk melahirkan SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan bermoral luhur. Krisis moral bisa menjadi bumerang jika tidak ditanggulangi secara efektif. Untuk menanggulanginya perlu upaya dan kerjasama yang efektif antara semua pihak baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Jika hal itu terwujud, setidaknya masih ada harapan untuk mewujudkan mimpi Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-5860675040398989123?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/5860675040398989123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=5860675040398989123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5860675040398989123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5860675040398989123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/08/pendidikan-moral-dalam-bias-globalisasi.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-2429486256229957047</id><published>2009-07-27T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T20:20:42.534-07:00</updated><title type='text'>TO OUR BELOVED MOM. . . .</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/Sm5uaAqWTKI/AAAAAAAAAFw/yroTtqecHdo/s1600-h/ibu.jpeg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/Sm5uaAqWTKI/AAAAAAAAAFw/yroTtqecHdo/s400/ibu.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363345599378115746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seputih Kasih Ibu &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, aku lahir dari perut. . . &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila dahaga, yang susukan aku. . . &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila lapar, yang suapkan aku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila kesepian, yang senantiasa disampingku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibu bilang, kata pertama yang kuucap. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila bangun tidur, yang aku cari. . . &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila nangis, orang pertama yang datang. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila ingin bermanja,, aku dekati. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila sedih, yang bisa membujukku hanya. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila nakal, yang memarahi aku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila merajuk, yang membujukku Cuma. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila takut, yang menenangkan aku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila ingin memeluk, yang aku suka memeluk. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu teringat . . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila sedih, aku telepon. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila senang, orang pertama yang kuberi tahu. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila bingung, aku suka curhat pada. . . &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila takut, aku selalu panggil. . .”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibuuuuuuuu&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Bila sakit, orang paling risau adalah. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila akan ujian, orang paling sibuk juga. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila buat perkara, yang marahi aku dulu. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila pulang sekolah, yang selalu menyambutku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila ada masalah, yang paling risau. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang masih peluk aku sampai hari ini. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu masak kegemaranku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barangku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang ajari aku memasak. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu puji aku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu nasihati aku. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu bangun disepertiga malam. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu menangis mengantar aku pergi. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu pikirkan aku makan apa. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang selalu sebut namaku dalam doa. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila aku mencintai seseorang . . .&lt;br /&gt;Orang pertama yang aku rujuk. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku punya pasangan hidup. . .&lt;br /&gt;Bila senang, aku cari pasanganku&lt;br /&gt;Bila sedih, aku cari. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila berhasil, aku ceritakan pada pasanganku&lt;br /&gt;Bila gagal, aku ceritakan pada. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila bahagia, aku peluk erat pasanganku&lt;br /&gt;Bila berduka, aku peluk erat. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibuku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila libur, aku bawa pasanganku&lt;br /&gt;Bila sibuk, aku antar anak kerumah. . .&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu aku ingat pasanganku&lt;br /&gt;Dan selalu &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt; ingat aku&lt;br /&gt;Bila telepon, aku akan telepon pasanganku&lt;br /&gt;Entah kapan aku akan telepon &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu. . .aku belikan hadiah untuk pasanganku&lt;br /&gt;Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ibuku&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan Rabbmu telah mengatakan supaya kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya &lt;/span&gt;(Al-Isra’:23)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik. Nabi menjawab : ibumu. Kemudian siapa? Nabi menjawab : ibumu. Kemudian siapa? Nabi menjawab : ibumu. Kemudian siapa? Bapakmu. &lt;/span&gt;(Muttafaq ‘alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Sungguh terlalu malu jika kuingat hutang budiku pada ibu. Berderai air mata ini jika kuingat kasih sayangnya yang sekian lama hampir terlupa. &lt;br /&gt;Terlalu banyak budinya yang kubalas dengan menyakiti&lt;br /&gt;Kasih sayangnya kubalas dengan menentang&lt;br /&gt;Aku lupa ya Rabbi. . .berkat usaha, asuhan dan didikannya aku berhasil kini&lt;br /&gt;Kepayahan sanggup dilupakan ketika mengandungku&lt;br /&gt;Kesakitan yang amat sangat sanggup dilalui ketika melahirkanku&lt;br /&gt;Tidur malamnya aku ganggu&lt;br /&gt;Titik peluhnya basah kering demi membesarkanku&lt;br /&gt;Tidak pernah ia mengadu letih&lt;br /&gt;Tidak pernah ia mengadu sakit&lt;br /&gt;Lauk yang dimulut sanggup ia keluarkan untuk diberikan padaku&lt;br /&gt;Harta yang dikumpulkan ikhlas dilepas untuk pendidikanku&lt;br /&gt;Namun, aku lupa semua itu ya Rabbi. . .&lt;br /&gt;Karena ia tak pernah mengeluh padaku ya Rabbi. . .&lt;br /&gt;Karena ia tak pernah mengadu padaku ya Rabbi. . .&lt;br /&gt;Hanya senyum tulus dan wajah teduh yang ia beri untukku&lt;br /&gt;Aku tak sempat memperhatikan guratan-guratan kerut didahinya&lt;br /&gt;Aku bahkan tak sadar kini rambutnya telah memutih&lt;br /&gt;Ah! Toh kupikir ibuku tetap cantik &lt;br /&gt;Matanya yang sayu tak pernah berubah&lt;br /&gt;Selalu menyiratkan ketulusan dan membawa energi baru untukku&lt;br /&gt;Ya Rabbi. . .&lt;br /&gt;Betapa luhurnya hati bunda&lt;br /&gt;Tak pernah ia menuntut apa-apa yang telah ia beri untukku hingga kini&lt;br /&gt; Ibu tak malu membawaku kemana-mana dalam keadaan perutnya membesar selama 9 bulan&lt;br /&gt;Ibu tak malu menyusukanku dalam keadaan apapun manakala aku merengek-rengek kelaparan &lt;br /&gt;Hingga kini ibu yang selalu membangga-banggakanku &lt;br /&gt;Memuji dan selalu menyanjungku&lt;br /&gt;Seburuk apapun perangaiku. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Never turn away from me . . .mom. . .&lt;br /&gt; Coz I love U somuch  . . .&lt;br /&gt;with all my heart. . .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allahummaghfirli wa liwalidayya, &lt;br /&gt;Warhamhuma kamaa rabbayaanii shogiiro. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-2429486256229957047?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/2429486256229957047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=2429486256229957047' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/2429486256229957047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/2429486256229957047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/07/to-our-beloved-mom.html' title='TO OUR BELOVED MOM. . . .'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/Sm5uaAqWTKI/AAAAAAAAAFw/yroTtqecHdo/s72-c/ibu.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-1872760749975504994</id><published>2009-05-24T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T20:50:36.590-07:00</updated><title type='text'>the fundamental problems during general election</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Abstention Phenomenon as Impact of Pessimism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Indonesian general election that already held on April 9th still leaves many problems. With 171 millions voters and 44 political parties contesting 560 seats on a party political basis for &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DPR&lt;/span&gt; (House Representative Council), 132 seats on an individual basis for the &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DPD &lt;/span&gt;(Regional Representative Council) for 33 provinces and 18.000 local government seats, this was a formidable logistics exercise. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course there were problems, including faulty voting list, the wrong ballot papers in the wrong areas, late arrival of wrong ballots in the remote areas, and attempts of voting by impersonators, the dead and the born and also there were many election fraud including vote selling, bribery, free lunches, and also followed by heavy rainfall and floods. From those reasons automatically influence the stump in voter turnout. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many experts and researcher agree that this years elections were more poorly attended than in the 2004 polls. The number of abstention was increase. Many researchers record that the abstention rates of 28 percent, up from 25 percent in 2004. It means that almost 40% Indonesian society gave a pessimism signals to the government. Most of them were so hopeless with the unstable political situations in Indonesia. Most of them think that washing their hands of politics is better than participate in politics. For them, join in politics or not can’t change their condition because almost year by year everybody know the number of corruption, the number of poverty, the number of education problems and many more the government homework’s which are have not solved yet till now.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Then . . .  let’s face it! In fact, there were thousands of people around Indonesian country wait for their bright future, their social welfare to get such a better condition for their life. But as we know the government can’t do more for their expectations. The governments just can seats in their comfort chairs with a millions of salary without concern about poverty condition. In addition, vote abstentions also caused by political reason. Many people were fed up with voting list and election logistic. Multy-party system was so confused and there were many election frauds such a money politics occurred everywhere. There were many leaders of every party blames each other. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;As a part of common people I can’t go along with the idea that the abstention is a good solution, but in fact a can’t blame the people who choose the abstention way in this general election, because their reason were so rational. &lt;br /&gt;How do they choose an unfamiliar candidate who comes from many parties?&lt;br /&gt;How do they believe with the candidate?&lt;br /&gt;Absolutely, it was so difficult condition, so I can conclude that the only solution to reduce the abstention is &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CHANGE&lt;/span&gt;. Change here has many definitions. Firstly, change in system. Is better if the participant in the next general election only ten parties not multy-party as now. Second, change in mentoring, it means that the party should be clever when doing campaign without make many politics or bad tricks. Third, change in trusts, it means that the government must improve their work. I have an opinion, they must follow &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FAWT&lt;/span&gt; rules (Full Action Without Talk) to fight corruption to increase Indonesian economics and make a stable politic condition etc. and last but not least, the government must concern with their society condition not only seats in their comfort chairs but they also have to go around looking at their society.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-1872760749975504994?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/1872760749975504994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=1872760749975504994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1872760749975504994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1872760749975504994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/05/fundamental-problems-during-general.html' title='the fundamental problems during general election'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-5017811205691231225</id><published>2009-04-02T19:01:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T19:54:36.870-07:00</updated><title type='text'>WELCOME GENERAL ELECTION</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Elections in Indonesia&lt;/b&gt; have taken place since 1955. At a national level, Indonesian people elect a &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Head_of_state" title="Head of state"&gt;head of state&lt;/a&gt; – the &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/President" title="President"&gt;president&lt;/a&gt; – and a &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Legislature" title="Legislature"&gt;legislature&lt;/a&gt;. The president is elected for a five-year term, as are the 550-member &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;people's representatives council&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/i&gt;, DPR) and the 128-seat &lt;span style="text-decoration: underline; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Regional &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; representatives council &lt;/span&gt;(&lt;i&gt;Dewan Perwakilan Daerah&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The Council is elected by&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; proportional representation&lt;/span&gt;  from multi-candidate &lt;span style="text-decoration: underline; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;constituencies&lt;/span&gt;Under Indonesia's has &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;multy party&lt;/span&gt; system, no one party has yet been able to secure an outright victory, meaning that parties work together in &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Coalition_government" title="Coalition government"&gt;coalition governments&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;In the 2009, general election will be held on 9 april.  it's mean that election which usually called &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;citizenry party&lt;/span&gt; is coming soon. many people around the indonesian archipelago still waiting for that moment. they will elect their new leader, their new president and especially their new expectation. For a very long time indonesian society have been wait to change their destiny. As we know that for five years SBY-JK hand, the poor society in indonesia still occupied in majority circle. almost 75% inhabitat in indonesia are poor people and still many man who unemployee. this case become a very big homework for indonesian  goverment. can they make the new revolution to improve those condition?. As a part of &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;pegel (persatuan golongan ekonomi lemah)  &lt;/span&gt;we have many expectation to the new leader latter. not only wait and see but we also wait and do to change. InsyaAllah&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-5017811205691231225?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/5017811205691231225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=5017811205691231225' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5017811205691231225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5017811205691231225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/04/welcome-general-election.html' title='WELCOME GENERAL ELECTION'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-7082461899078958219</id><published>2009-01-27T23:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T00:11:22.953-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SYAQoHY4I8I/AAAAAAAAAEI/QjvIG6B07fI/s1600-h/images+gua.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 129px; height: 67px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SYAQoHY4I8I/AAAAAAAAAEI/QjvIG6B07fI/s320/images+gua.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296251443151905730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SYAQgzxteKI/AAAAAAAAAEA/-vnciIdrMKY/s1600-h/images+gua2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SYAQgzxteKI/AAAAAAAAAEA/-vnciIdrMKY/s320/images+gua2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296251317628270754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WE WILL NOT GO DOWN&lt;/span&gt; (Song for Gaza)&lt;br /&gt;(Composed by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Michael Heart&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Copyright 2009&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;A blinding flash of white light&lt;br /&gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;br /&gt;People running for cover&lt;br /&gt;Not knowing whether they’re dead or alive&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;They came with their tanks and their planes&lt;br /&gt;With ravaging fiery flames&lt;br /&gt;And nothing remains&lt;br /&gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Women and children alike&lt;br /&gt;Murdered and massacred night after night&lt;br /&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;br /&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;But their powerless words were in vain&lt;br /&gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;br /&gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;br /&gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In the night, without a fight&lt;br /&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;But our spirit will never die&lt;br /&gt;We will not go down&lt;br /&gt;In Gaza tonight&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;let's imagine....&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;kalo musisi eropa sekelas michael heart aja bisa tersentuh, brontak, bahkan mencaci habis-habisan atas agresi israel terhadap warga palestina so bagaimana dengan kita ( as a part of moslem society) malu tentunya kalo kita gak bisa berbuat apa-apa. Seeorang yang masih murni hati nuraninya tanpa dibelenggu oleh kepentingan apapun pasti sepakat menolak agresi israel walaupun taro' lah sekarang udah sepakat genjatan senjata tapi tetep aja gak bisa mengembalikan nyawa-nyawa tak berdosa yang sudah melayang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanallah&lt;/span&gt; muncul musisi sekritis michael heart yang nggak tanggung-tanggung berani mengkritisi sikap PBB lewat lagunya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bravo michael heart&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-7082461899078958219?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/7082461899078958219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=7082461899078958219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7082461899078958219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7082461899078958219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down-song-for-gaza.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SYAQoHY4I8I/AAAAAAAAAEI/QjvIG6B07fI/s72-c/images+gua.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-4278003311814624278</id><published>2009-01-16T20:38:00.001-08:00</published><updated>2009-01-19T23:51:33.595-08:00</updated><title type='text'>KALIAN TAK SENDIRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhMAGJIqI/AAAAAAAAADg/jJGY_Ud3Psk/s1600-h/palestine5.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 91px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhMAGJIqI/AAAAAAAAADg/jJGY_Ud3Psk/s320/palestine5.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292117895949132450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhF2w_85I/AAAAAAAAADY/Zu82gIEj9xE/s1600-h/palestine+4.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 109px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhF2w_85I/AAAAAAAAADY/Zu82gIEj9xE/s320/palestine+4.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292117790365315986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhAHT4HQI/AAAAAAAAADQ/7_d6g8TBDnU/s1600-h/palestine+3.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 95px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhAHT4HQI/AAAAAAAAADQ/7_d6g8TBDnU/s320/palestine+3.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292117691727355138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFg5SoLptI/AAAAAAAAADI/QiYxaf13MQo/s1600-h/palestine2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 89px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFg5SoLptI/AAAAAAAAADI/QiYxaf13MQo/s320/palestine2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292117574506227410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFgycwDseI/AAAAAAAAADA/pipTaIliRtA/s1600-h/palestine+1.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 114px; height: 88px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFgycwDseI/AAAAAAAAADA/pipTaIliRtA/s320/palestine+1.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292117456964530658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : Rumi&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:georgia;" &gt;Dengan hati selembut mawar jingga, Dengan air mata yang selalu menganak sungai,  Dengan isak tangis sedramatis bait taubat. Entah dengan bahasa apa lagi kami harus berbicara, dengan suara kami yang separuhnya tercekat hampir kami tak sanggup menyuarakan apa-apa  sebagai wujud kepedulian kami terhadap penderitaaan saudara-saudara kami di Palestina. Entah dengan kalimat apa lagi kami harus mengutuk kebiadapan bangsa Irael.  Suara-suara kami telah habis tak ubahnya debu yang diterpa angin atau karena begitu merdunya bak buluh perindu yang mampu menidurkan dunia. Sekian lama kami menunggu akankah perdamaian kan terwujud di ditanah suci tiga agama samawi itu?. Sekian lama kami berupaya dengan berbagai demonstrasi, munasaroh, diskusi dan masih banyak lagi. Entah dimanakah mereka yang tergabung dalam PBB, OKI, liga arab atau organisasi perdamaian dunia lainnya. Semuanya menutup mata terhadap mayat-mayat tak berdosa yang kian hari kian bertambah. Semuanya menutup telinga terhadap suara tangis jundi-jundi jihad dan ratapan ibu-ibu tak berdosa. Semuanya tuli dengan deru rudal-rudal israel yang kian hari kian menggila. Atau karena sudah begitu terbiasa sehingga suara-suara keji itu tak ubahnya petasan yang berbunyi menjelang hari raya. Doa' ,.ya..h mungkin hanya inilah langkah akhir yang sanggup kami tempuh. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Ia tak pernah lengah dari sekecil apapun usaha manusia. Syurga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai telah ia persiapkan bagi mereka yang berjuang menegakkan kalimahNya. saudaraku...percayalah sesungguhnya kami tak menutup mata terhadap deritamu  seperti tikus-tikus perdamaian dunia itu. Yakinlah bahwa kami bersamamu, kami merindumu dan kan terus menyebutmu dalam setiap lantunan doa kami. Ya Allah persaksikanlah mereka, saudara-saudara kami dipalestina sebagai mujahid-mujahidah penegak kalimahMu yang berhak mendapat syurgamu. Perkuatlah kami dengan dengan kehendakMu untuk sekuat daya membantu kebebasan mereka. Palestina sesungguhnya kalian tak sendiri.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-4278003311814624278?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/4278003311814624278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=4278003311814624278' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4278003311814624278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4278003311814624278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/01/kalian-tak-sendiri.html' title='KALIAN TAK SENDIRI'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFhMAGJIqI/AAAAAAAAADg/jJGY_Ud3Psk/s72-c/palestine5.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-849776785182800518</id><published>2009-01-16T19:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T20:13:45.506-08:00</updated><title type='text'>Ketika Dunia Meninggalkan Kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:lucida grande;" &gt;by: Rumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Roda kehidupan ini memang aneh. Abstrak dan tak mengenal rumus. Pun tak ubahnya dengan dunia. Seperti ungkapan yang sudah begitu basi terdengar  dunia bagai roda yang terus berputar, kadang berada diatas dan kadang dibawah. Setiap manusia mutlak akan menghadapi dua zona dalam kehidupan. zona pertama yang penuh dengan pernak-pernik, simponi-simponi cinta , berjuta keberuntungan yang membawa pemiliknya kepada puncak kebahagiaan, namun pada zona lain dapat berubah seketika menjadi ranjau penuh duri yang siap menenggelamkan kehidupan manusia kepada titik kesedihan yang tiada tara. Pada titik inilah kehidupan seperti tak berarti. Ingin meninggalkan dunia belum siap dengan hisab yang harus dihadapai (bagi orang yang beriman tentunya) namun tetap berdiam seolah tak ada artinya. Dunia semakin menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini begitu banyak bukti dan fenomena yang kita lihat mencengangkan akibat semakin tak bersahabatnya dunia terhadap kehidupan manusia.Luar biasa memang,  setiap kita dibuat terpesona oleh pernak-pernik dunia, tergantung pada kesetiaanya menemani, dibuat ketagihan oleh sajian hiburan dan keindahan yang tiada henti dan terakhir kita dibuai oleh harapan setinggi langit yang dijanjikannya. kata "&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;kita&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;" disini mengacu kepada semua diantara kita yang telah larut dengan buaian-buaian dunia baik lahir maupun batin. Penulis berharap cegahlah dengan sekuat daya kita untuk ikut bergabung kedalam golongan "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;kita&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;" dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak dunia ini memabukkan. Seperti diketahui bersama, orang yang mabuk tidak dapat memahami antara yang baik dan yang buruk bahkan untuk memahami diri sendiripun kerepotan. Coba kita renungkan jika mabuk alkohol saja bisa membuat peminumnya over dosis kemudian &lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;go out&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;dari dunia ini, lalu bagaimana dengan mabuk dunia yang valuenya begitu luas dan multiaspek? jawabannya bukan kita yang akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;go out&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt; dari dunia ini, tapi justru sebaliknya dunia yang akan eneg, bosan atau istilah jawa kasarnya "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;jeleh&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;" dengan diri kita. Kita tak ubahnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;omnivora&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;bahkan lebih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;nggragas&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;lagi karena telah memabukkan diri dengan dunia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;slowly but&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;sure&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt; akibat yang dihasilkan jika kita terus menerus dalam kemabukan adalah kehampaan spiritual yang sangat mengecewakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Finally&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;, hal yang sangat bermanfaat adalah jika kita mau menyadari peranan dan tugas kita didunia juga terus berusaha untuk memfilter diri agar tidak dimabukkan oleh dunia. Ingatlah bahwa setiap kita adalah khalifah dimuka dunia yang berstatus makhluk termulia ciptaan Tuhan. Apa jadinya jika khalifah itu mabuk. Apa artinya jika status makhluk termulia hanya menjadi semacam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;degree comparison&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt; untuk mengungguli makhluk lain,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;nonsense&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;!. Dengan menyadari peranan kita didunia ini maka kita dapat memahami dengan baik hakikat kehidupan dan tidak terbuai dengan harapan-harapan semu. Akhirnya kitapun siap menghadapi derasnya arus kehidupan tanpa terombang-ambing pada arah yang tak tentu. Duniapun kan tersenyum, seraya berjalan disamping kita bukan malah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;say good bye&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;sembari mencerca.&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bishowab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-849776785182800518?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/849776785182800518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=849776785182800518' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/849776785182800518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/849776785182800518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/01/ketika-dunia-meninggalkan-kita.html' title='Ketika Dunia Meninggalkan Kita'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-1218505554540342618</id><published>2009-01-15T00:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T23:46:16.744-08:00</updated><title type='text'>ALTIS MEMBER</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFvFz94J6I/AAAAAAAAADo/KSTL7WT8xEk/s1600-h/kenyot.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 192px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFvFz94J6I/AAAAAAAAADo/KSTL7WT8xEk/s320/kenyot.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292133182776813474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW77QNCJTcI/AAAAAAAAACY/LKfcTqITeQQ/s1600-h/member+altis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 223px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW77QNCJTcI/AAAAAAAAACY/LKfcTqITeQQ/s320/member+altis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291442868002049474" border="0" /&gt;temen - temen altis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIAR BEDA ENJOY AJA....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;from left :&lt;br /&gt;prof alien, tengel, gue, inul, mami, bety, ira, allit, welut, boy, lek dhi, tekmen, si'un, barjo&lt;br /&gt;gembhus, jegu and the last is the coolest boy of altis RIDMEN.&lt;br /&gt;Indahnya persahabatan hanya akan terasa disaat kita bisa saling menghargai perbedaaan yang ada. secara donk...kita hidup dalam beragam komunitas. yang jelas nggak semua orang bisa kayak kita ato paling nggak sejalan dengan kita. trus gimana caranya biar kita bisa open dengan berbagai keragaman. Ok..well Bukan maksud meh nggurui or ngerasa paling bener or so on,tapi kayaknya permasalahan ini kadang menjadi hal yang super pelik, maklum penulis juga pernah ngalamin hal paling nggak ngenakin terkait dengan perbedaan dalam sebuah komunitas. So, mau gak mau emang harus ketemu jalan keluarnya. Sekedar bagi-bagi pengalaman nih, dulu pas masih SMA penulis pernah ngalamin stress berat gara-gara mesti adaptasi dengan lingkungan baru yang otomatis beda banget dengan lingkungan sebelumnya. Temen baru yang mana mayoritas cowok ( nggambus-nggambus sisan)  hee...he sory yo rel  nek nyinggung, trus lingkungan baru yang panas luar dalem, pergaulan bebas yang nuntut kita jadi remaja funky and masih banyak lagi . ternyata masalah-masalah tadi gak cuman berhenti saaat masih SMA doang,  pas memasuki dunia kerjapun gak beda jauh malah lebih parah . Bayangin, lahir dari keluarga yang super religius, yang dikit-dikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ora ilok&lt;/span&gt; alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pamali&lt;/span&gt;, yang tiap hari didawuhi tentang urgensi moral, etika, unggah-ungguh, totokromo dll tiba-tiba harus dihadapkan pada new life style yang mana didalamnya penuh dengan budaya hedonis, free thinkers, dll yang nggak cuman menyangkut masalah gaya hidup aja tapi juga agama, prinsip, dan masih banyak lagi. Menanggapi problem kayak gini kalo nggak pinter-pinter kita manage piye jal?... padahal imposible banget kalo kita mo hidup ama keluarga terus. Bener banget noh kata pepatah "pengalaman adalah guru terbaik" artinya dengan masalah-masalah yang pernah bikin stress tadi penulis jadi mikir benernya yang salah tuh "perbedaannya or emang orangnya aja yang rese" . Jawabannya adalah emang dasar orangnya yang rese' (termasuk yang nulis) he..he. Singkatnya,  perbedaan itu bukan sesuatu yang harus kita jauhin or stressin tapi sebaliknya dengan perbedaan kita bisa menjalin kebersamaan, saling menghargai and finally,bikin dunia ini semakin indah seperti programnya a'a gym di RCTI "indahnya kebersamaan".  Kedengarannya simple banget ya? emang..lawong cuman nulis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;but nothing imposible if we try and try again &lt;/span&gt;&lt;span&gt;palagi kalo mulai dari sekarang. Tapi yang mesti dicatet, terkadang saking opennya dengan perbedaan,kita sampe nggak bisa ngebedain mana yang harus tetep dipegang teguh.Dalam hal ini kita sering ngalir aja trus terbawa arus and gubrak ..jadilah dunia kita ini sebagai panggung sandiwara. Terus ngikutin arus tanpa  punya pegangan dan arah yang jelas ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;how pitty you are). &lt;/span&gt;Makanya disinilah pentingnya prinsip biar kita gak terombang-ambing kearah yang gak jelas. mengutip pernyataannya KAKOM KAMMI IAIN Walisongo Semarang "boleh mewarnai tapi tidak terwarnai" artinya pikir sendiri ya? capek nulis.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-1218505554540342618?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/1218505554540342618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=1218505554540342618' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1218505554540342618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1218505554540342618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2009/01/altis-member.html' title='ALTIS MEMBER'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SXFvFz94J6I/AAAAAAAAADo/KSTL7WT8xEk/s72-c/kenyot.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-8597987453196984306</id><published>2008-12-16T22:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T20:03:13.694-08:00</updated><title type='text'>DIEKA'S MEMORIES</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INSTRUCTION OF LIFE &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;by : rumi ( a chinese red )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;many people walk in and walk out of my life&lt;br /&gt;but only &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TRUEFRIEND&lt;/span&gt; will leave footprints in my heart&lt;br /&gt;who loses money, loses much&lt;br /&gt;who loses friend, loses more&lt;br /&gt;and who loses faith, loses all&lt;br /&gt;one with a great minds tends to discuss ideas&lt;br /&gt;one with average minds tends to discuss event&lt;br /&gt;but one with small minds tends to discuss people&lt;br /&gt;to handle your self, use your head&lt;br /&gt;but to handle other, use your heart&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANGER&lt;/span&gt; is only one letter short of &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DANGER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;if someone betrays you ones, its his fault&lt;br /&gt;if she betrays you twice, its your fault&lt;br /&gt;God gives every bird their food&lt;br /&gt;but He doesn't throw it into the nest&lt;br /&gt;beautiful young woman are acts of nature&lt;br /&gt;and beautiful old woman are work of art&lt;br /&gt;learn from the mistakes of others&lt;br /&gt;and you don,t need to make them on yourself&lt;br /&gt;dear...&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;DIEKA&lt;/span&gt;....this is special for you&lt;br /&gt;dear..&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;DIEKA..&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;don,t walk in front of me coz i can't to be with you&lt;br /&gt;don't walk behind me coz i can't lead you&lt;br /&gt;dear &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;DIEKA...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;always be there for me&lt;br /&gt;always in my side&lt;br /&gt;to be my &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TRUEFRIEND&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-8597987453196984306?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/8597987453196984306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=8597987453196984306' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8597987453196984306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8597987453196984306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/diekas-memories.html' title='DIEKA&apos;S MEMORIES'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-1811690274836694255</id><published>2008-12-16T21:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T21:26:03.267-08:00</updated><title type='text'>happy mother's day</title><content type='html'>this time &lt;br /&gt;i just wanna say &lt;br /&gt;from the metter of my heart &lt;br /&gt;mom....I LOVE YOU SO MUCH  &lt;br /&gt;till the world destruction&lt;br /&gt;this life,&lt;br /&gt;this sacrifice,&lt;br /&gt;just for you &lt;br /&gt;after my LORD&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-1811690274836694255?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/1811690274836694255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=1811690274836694255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1811690274836694255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1811690274836694255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/happy-mothers-day.html' title='happy mother&apos;s day'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-7696608032917926021</id><published>2008-12-16T20:20:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T20:07:14.512-08:00</updated><title type='text'>lord of universe</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH KNOWS &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;by : rumi (a chinese red )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you are tried and discouraged from fruitless effort&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; Knows how hard you have tried&lt;br /&gt;When you have cried so long and your heart is in anguish&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has counted your tears&lt;br /&gt;When you feel that your life is uncertain and time has passed you by&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; is waiting with you&lt;br /&gt;When you are lonely and your friends are too busy even for a phone call&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; is by your side&lt;br /&gt;When you have tried everything and don't know where to turn&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has a solution&lt;br /&gt;When nothing makes sense and you are confused or frustrated&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has the answer&lt;br /&gt;When suddenly your life is brighter and you find traces of hope&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has whispered to you&lt;br /&gt;When things are going well and you have much to be thankful for&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has blessed you&lt;br /&gt;When something joyful happens and you are felt with awe&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH &lt;/span&gt;has smiled upon you&lt;br /&gt;When you have a purpose to fulfill and a dream to follow&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH&lt;/span&gt; has opened your eyes and called you by name&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;REMEMBER&lt;/span&gt; that wherever you are or whatever you are facing&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALLAH KNOWS&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-7696608032917926021?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/7696608032917926021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=7696608032917926021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7696608032917926021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/7696608032917926021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/lord-of-universe.html' title='lord of universe'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-5866643429994805890</id><published>2008-12-14T22:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T20:09:31.748-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MY WEAK SOUL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;by : rumi (a chinese red )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I ask to the sky&lt;br /&gt;the answer is YOU&lt;br /&gt;I run to the jungle&lt;br /&gt;and i found YOU&lt;br /&gt;I walk in the God's way&lt;br /&gt;my way is full of YOU&lt;br /&gt;I stand in the empty street&lt;br /&gt;just YOUR face beside my shadow&lt;br /&gt;absolutly,as a sorrow&lt;br /&gt;YOU touch every part of my life&lt;br /&gt;YOU shade every my journey&lt;br /&gt;my sadness, my happines, my brittlenes&lt;br /&gt;just becouse YOUR influence&lt;br /&gt;I cry, I fall, I brittle&lt;br /&gt;just becouse YOUR perfections&lt;br /&gt;YOU have reached my heart profusely&lt;br /&gt;YOU have touched my vanity at the top of one's lungs&lt;br /&gt;everysecond,everynight, everyday,&lt;br /&gt;everyweek,everymonth and everytime&lt;br /&gt;YOU always become my colonizer&lt;br /&gt;just YOUR shadow walk around my soul  &lt;br /&gt;thinking of YOU almost killing me&lt;br /&gt;then, i just wanna runaway&lt;br /&gt;from everything about YOU&lt;br /&gt;but till now&lt;br /&gt;YOU're still the one for me&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-5866643429994805890?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/5866643429994805890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=5866643429994805890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5866643429994805890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5866643429994805890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/my-weak-soul-i-ask-to-sky-answer-is-you.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-6899233060245303899</id><published>2008-12-09T22:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T23:04:05.555-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>No Coward Soul is Mine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No coward soul is mine,&lt;br /&gt;No trembler in the worlds storm-troubled sphere:&lt;br /&gt;I see Heavens glories shine,&lt;br /&gt;And faith shines equal, arming me from fear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O God within my breast.&lt;br /&gt;Almighty, ever-present Deity!&lt;br /&gt;Life -- that in me has rest,&lt;br /&gt;As I -- Undying Life -- have power in Thee!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vain are the thousand creeds&lt;br /&gt;That move mens hearts: unutterably vain;&lt;br /&gt;Worthless as withered weeds,&lt;br /&gt;Or idlest froth amid the boundless main,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To waken doubt in one&lt;br /&gt;Holding so fast by Thine infinity;&lt;br /&gt;So surely anchored on&lt;br /&gt;The steadfast Rock of immortality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With wide-embracing love&lt;br /&gt;Thy Spirit animates eternal years,&lt;br /&gt;Pervades and broods above,&lt;br /&gt;Changes, sustains, dissolves, creates, and rears.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though earth and man were gone,&lt;br /&gt;And suns and universes ceased to be,&lt;br /&gt;And Thou wert left alone,&lt;br /&gt;Every existence would exist in Thee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is not room for Death,&lt;br /&gt;Nor atom that his might could render void:&lt;br /&gt;Thou -- Thou art Being and Breath,&lt;br /&gt;And what Thou art may never be destroyed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poem By: Emily Bronte&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-6899233060245303899?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/6899233060245303899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=6899233060245303899' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/6899233060245303899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/6899233060245303899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/no-coward-soul-is-mine-no-coward-soul.html' title=''/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-4031510779110037250</id><published>2008-12-03T00:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:56.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NEWS'/><title type='text'>Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog</title><content type='html'>&lt;div id="content"&gt;     &lt;div class="post" id="post-95"&gt;     &lt;h2&gt;Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog&lt;/h2&gt;          &lt;div class="postmetadata"&gt;Posted by &lt;a href="http://forumlingkarpena.net/author/udomat/" title="Posts by udomat"&gt;udomat&lt;/a&gt; on December 2nd, 2008  &lt;span class="commentcount"&gt;&lt;a href="http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/#discussion"&gt;No Comments&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;     &lt;span id="print"&gt;&lt;a href="http://forumlingkarpena.net/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/#printpreview" onclick="printPreview();"&gt;Printer-Friendly&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;          &lt;/div&gt;          &lt;div class="clearfloat"&gt;               &lt;div class="entry narrow clearfloat bigger"&gt;     &lt;p&gt;&lt;img class="picleft" alt="Dialog" src="http://forumlingkarpena.net/wp-content/uploads/2008/12/dialog.jpg" border="0" /&gt;Dialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis. Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi “cara halus” untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:&lt;br /&gt;1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak. Dialog semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun, namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat. Pelajaran pertama dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Mengulang-ulang maksud dalam beberapa potong kalimat. Meskipun dialog sedapat mungkin dibuat agar nyata, namun dialog yang bertele-tele akan membosankan pembaca. Cukup membuat satu kalimat saja untuk menyampaikan sebuah maksud spesifik. Hal ini tentunya akan berlaku lain apabila Anda dengan sengaja ingin menciptakan kesan tokoh yang peragu atau obsesif kompulsif. Namun demikian, terlalu banyak efek justru akan berbalik menjadi bumerang bagi Anda. Dialog yang terlalu panjang juga akan menghambat pergerakan cerita. Jadi rumusnya, bijaksanalah dalam menuliskan dialog.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Tidak memperhatikan siapa yang berbicara apa. Sering kali kita mendapatkan beberapa dialog ditumpukkan tanpa menyebutkan siapa yang berbicara, seperti contohnya di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kamu kemarin pulang jam berapa?”&lt;br /&gt;“Jam satu, kenapa?:&lt;br /&gt;“Oh, tidak aku hanya penasaran siapa yang membuka pintu kulkas sekitar jam dua belasan…”&lt;br /&gt;“Kamu yakin mendengar suara itu?”&lt;br /&gt;“Ehm, iya. Tapi sekarang aku jadi agak ragu.”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hantu yang menjaga rumah ini?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ini sah-sah saja apabila kebetulan dialog itu hanya terjadi antara dua orang tokoh. Namun apabila tokoh yang ada lebih dari dua orang maka ceritanya jadi lain. Jika penulis tidak mencantumkan siapa yang berbicara, pembaca mungkin menjadi bingung untuk mengidentifikasi si pembicara. Namun terlalu banyak memberikan nama juga dapat menjemukan. Hal ini bias diakali dengan cara menyelinginya dengan tanda-tanda yang mengarah kepada totkoh tertentu. Seperti misalnya di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kamu pasti lupa membawa buku itu!” Tuduh Andi.&lt;br /&gt;“Buku apa?” Tanya balik Rizal sambil memainkan rambutnya yang ikal.&lt;br /&gt;“Buku harian Bu Nindi, Bodoh!” Andi tidak dapat menahan amarahnya.&lt;br /&gt;“Oh itu…” Jawab si pemilik rambut ikal itu dengan enteng.&lt;br /&gt;4. Menggunakan “dia” secara tidak cermat sehingga membuat pembaca bingung “dia” tersebut mengacu pada siapa. Hal ini sering terjadi pada dialog yang menceritakan beberapa orang. Ketika si tokoh mengatakan “dia” sebaiknya secara tepat mengacu pada sasaran yang dituju, seperti contoh di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemarin aku bertemu dengan Dinda. Ia jalan sama cowok lain. Tahu nggak siapa orang itu? Dito! Dito yang itu…., Na!”&lt;br /&gt;“Apanya yang heboh? Dia kan emang terkenal suka gonta-ganti pacar, kan?”&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Melekatkan gaya berbicara yang sama kepada setiap tokoh. Tentunya setiap tokoh memiliki karakter unik. Keunikan itu juga salah satu di antaranya tercermin dari cara si tokoh tersebut berbicara. Penciptaan cara berbicara yang menjadi trademark, entah itu dari pemilihan diksi atau dialek, bagi seorang tokoh tertentu bisa membuat kehadirannya menjadi nyata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;6. Terlalu kaku dalam menggunakan narasi pengantar. Narasi pengantar yang umumnya digunakan adalah ”kata”, ”ujar”, ”tanya”, dan ”perintah”. Seperti contoh di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Kita akan pergi besok,” ujar bapak.&lt;br /&gt;”Pergi ke mana?” Tanyaku.&lt;br /&gt;”Ke tempat kelahiran ibumu,” kata bapak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Cobalah untuk mengeksplorasi istilah-istilah yang lain seperti misalnya: ”kilah”, ”lanjut”, ”potong”, ”tebak”, ”gumam”, ”bisik”, dll.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;7. Menulis dialog terlalu panjang. Terkadang sebagai seorang penulis, kita tidak sabar untuk menyampaikan begitu banyaknya informasi kepada pembaca sehingga tanpa sadar dialog si tokoh jadi mengembang. Sebenarnya dialog yang panjang berpotensi besar untuk membunuh ketertarikan orang dalam membacanya tuntas. Panjangnya dialog juga bisa membuat suasana eksternal (setting, waktu, dll) yang coba untuk dibangun oleh si penulis menjadi kabur. Jika seandainya dialog memang dibutuhkan panjang, maka seyogyanya untuk memenggalnya menjadi beberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Aku percaya ada beberapa orang yang ditakdirkan berbakat secara supernatural. Misalnya aku yang juga dianugerahi bakat cenayang. Namun aku pun masih tetap harus belajar untuk menajamkan kemampuanku. ….”&lt;br /&gt;Cassandra mengambil beberapa bendel dokumen dari dalam tas kerjanya.&lt;br /&gt;“Menurut dokumen ini, ada beberapa macam cenayang –yang kutahu– dilihat dari cara mereka menangkap pesan dan mendeteksi keberadaan fenomena supernatural….,” sambung Cassandra. (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-4031510779110037250?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/4031510779110037250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=4031510779110037250' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4031510779110037250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4031510779110037250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat.html' title='Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-5168294505288359545</id><published>2008-12-03T00:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:56.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NEWS'/><title type='text'>Pipiet Senja: Menulis dari Pengalaman Pahit</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Pipiet Senja: Menulis dari Pengalaman Pahit&lt;/h2&gt;                    &lt;div class="clearfloat"&gt;               &lt;div class="entry narrow clearfloat bigger"&gt;     &lt;p&gt;&lt;img class="picleft" alt="Acara di padang" src="http://forumlingkarpena.net/wp-content/uploads/2008/11/acara-20di-20padang.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padang, (ANTARA) - Pipiet Senja, penulis bestseller asal Sumedang mengaku dirinya menulis setelah mengalami banyak pengalaman pahit dalam hidupnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Menulis dari pengalaman, tulisan terus mengalir, saya tidak perlu mencari bahan lagi karena dialami sendiri,” ujarnya, saat workshop yang diadakan Wanita Penulis Indonesia (WPI), di Padang, Rabu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia pun menceritakan pengalamannya kepada peserta workshop, mulai tulisan-tulisannya yang sering ditolak, dan pertama kali dia mengaku mengirimkan tulisan ke radio. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak hanya pengalamannya menulis, ujarnya, penderitaan fisik juga telah dia alami bertahun-tahun, seperti komplikasi berbagai penyakit. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga kini, dia mengaku ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya karena penyakit kelainan darah bawaan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan untuk hidup,” kisahnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia pun berpesan kepada para peserta yang berminat menulis, agar jangan patah arang meskipun cobaan besar yang dialami. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis perempuan yang telah menghasilkan puluhan buku tersebut, lebih sering menulis memoar, yakni cerita tentang pengalaman hidupnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menulis memoar itu gampang, sebab langsung dari pengalaman pribadi dan orisinalitasnya terjaga, demikian ujar Pipiet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Source: &lt;a href="http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?mod=berita&amp;amp;d=2&amp;amp;id=5379"&gt;ANTARA – Sumbar&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-5168294505288359545?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/5168294505288359545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=5168294505288359545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5168294505288359545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/5168294505288359545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/pipiet-senja-menulis-dari-pengalaman.html' title='Pipiet Senja: Menulis dari Pengalaman Pahit'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-1927457414223741818</id><published>2008-12-02T23:28:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:56.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KAMMI'/><title type='text'>KAMMI Komisariat Walisongo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STY1hq6TADI/AAAAAAAAAAw/xf_TZ7BGHe0/s1600-h/KAMMI+IAIN.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 258px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STY1hq6TADI/AAAAAAAAAAw/xf_TZ7BGHe0/s320/KAMMI+IAIN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275462866081873970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-1927457414223741818?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/1927457414223741818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=1927457414223741818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1927457414223741818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/1927457414223741818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/kammi-komisariat-walisongo.html' title='KAMMI Komisariat Walisongo'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STY1hq6TADI/AAAAAAAAAAw/xf_TZ7BGHe0/s72-c/KAMMI+IAIN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-6141514264370112296</id><published>2008-12-02T23:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:56.702-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu'/><title type='text'>Cara Cepat belajar aplikasi WEbsite dengan pembuatan Blog:</title><content type='html'>Cara Cepat belajar aplikasi WEbsite dengan pembuatan Blog:&lt;br /&gt;1. pahami tutorial tentang Webblog, bisa baca buku atau otodidak dengan otak-atik sendiri bagi yang "pede" atau bagi orang yang gak mudah stress...he..hee.&lt;br /&gt;2. kalo udah paham cara pembuatannya cari beberapa file/dokument yang akan kita posting atau kita tampilkan di blog kita.&lt;br /&gt;3. tentunya pertama, kita login/sign in dulu alamat dan pasword situs kita " kalo udah punya" di alamat blooger.com yang paling mudah dan praktis,kedua: kita cari perintah yang ada di layar blog kita yaitu perintah entri baru-edit entri-pengaturan-tata letak,dll di dasbot kita...apa jal? ya pokoknya nanti ketemu lah.&lt;br /&gt;nah setelah itu kita bisa pilih salah satunya.&lt;br /&gt;* Entri baru gunanya kita menampilkan file apa aja di jendela blog kita up to you: file, gambar, video,etc.&lt;br /&gt;* edit entri untuk memperbahatui atau mengedit kesalahan pada tampilan yang dirasa salah.&lt;br /&gt;*tata letak: untuk merubah font warna dan menamabah aplikasi atau susunan semisal profil kita, buat HTML/alamat situs penting lain, atau uruatan rubrik yang akan kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selanjutnya mudah....jika anda tetap belajar tentang dunia blog. kita tinggal santai dan menikmati aneka ragam aplikasi yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-6141514264370112296?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/6141514264370112296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=6141514264370112296' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/6141514264370112296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/6141514264370112296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/cara-cepat-belajar-aplikasi-website.html' title='Cara Cepat belajar aplikasi WEbsite dengan pembuatan Blog:'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-4193882367655369739</id><published>2008-12-02T23:17:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:56.702-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Picture Document'/><title type='text'>KAMMI'ers</title><content type='html'>OKE. FUNNY ABIZZZZ&gt;&gt;&gt;&gt;&gt; Mujahid Cilik....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STYzMrk4ZYI/AAAAAAAAAAo/tobxOPVPqCY/s1600-h/26102008%28043%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STYzMrk4ZYI/AAAAAAAAAAo/tobxOPVPqCY/s320/26102008%28043%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275460306459977090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar: Mujahid KAMMI yang sedang action...Allahuakbar!!!!&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/VIP-1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/VIP-1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/VIP-1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-2.jpg" alt="" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-4193882367655369739?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/4193882367655369739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=4193882367655369739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4193882367655369739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/4193882367655369739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/kammiers.html' title='KAMMI&apos;ers'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/STYzMrk4ZYI/AAAAAAAAAAo/tobxOPVPqCY/s72-c/26102008%28043%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7211774841716063304.post-8053096293110640120</id><published>2008-12-02T23:14:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T22:57:57.674-08:00</updated><title type='text'>Picture on  action simulation</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7211774841716063304-8053096293110640120?l=mie-akhwataltis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/feeds/8053096293110640120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7211774841716063304&amp;postID=8053096293110640120' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8053096293110640120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7211774841716063304/posts/default/8053096293110640120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mie-akhwataltis.blogspot.com/2008/12/picture-on-action-simulation.html' title='Picture on  action simulation'/><author><name>rumi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16061987155593312768</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_SUu8KC-79iM/SW3oFXE1-SI/AAAAAAAAACA/2B8vc5rbcEw/S220/Temi.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
